Filsafat Ilmu: Pemikiran Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Al-Ghazali

Filsafat Ilmu: Pemikiran Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Al-Ghazali

Filsafat Ilmu – Berbicara mengenai Filsafat Ilmu, pasti tidak akan terlepas dari bahasan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Ketiganya merupakan tiga cabang besar dari filsafat. Ontologi atau teori hakikat membicarakan pengetahuan itu sendiri. Membicarakan apa sebenarnya dari sesuatu. Epistemologi atau teori pengetahuan membicarakan cara memperoleh suatu pengetahuan. Bagaimana kita memperoleh suatu pengetahuan. Sedangkan yang terakhir, Aksiologi atau teori nilai membicarakan apa manfaat atau guna dari pengetahuan yang sebelumnya telah kita ketahui hakikat dan cara memperolehnya.

Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya menimbulkan bencana.

Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) adalah seorang tokoh pemikir muslim yang hidup diakhir zaman keemasan. Di bawah Khilafah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Pada masanya, situasi dan politik mengalami krisis, baik karena motivasi ideologis, etnis maupun ambisi duniawi.

Ulama pada umumnya, termasuk al-Ghazali, sampai usia tertentu serius mencari dan mengembangkan ilmu untuk mencapai kedudukan tinggi di mata umat dan penguasa. Sebaliknya, penguasapun berusaha mendekati ulama untuk memperkuat posisinya di mata umat.

Dengan kondisi politik dan agama yang krisis pengetahuan dan kepercayaan itulah, al-Ghazali menjadi bersemangat untuk menguasai berbagai disiplin ilmu dan semua aliran sampai ke yang paling dalam. Karena inilah, beliau menjadi seorang sufi filosof yang mutakallimin dan faqih besar yang oleh al-Maraghi disebut sebagai ensiklopedi semua cabang ilmu pengetahuan dimasanya.

 

Baca Juga: WALIMAH: Resepsi Pernikahan dalam Islam

 

Biografi singkat Al-Ghazali

Nama lengkap Imam al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali. Lahir pada 450 Hijriyah/1048 Masehi pada abad 5 Hijriyah di desa Taberan distrik Thus, Persia. Bersamaan dengan munculnya mazhab dan perbedaan agama. Bapaknya seorang pembuat bulu kain shuf dari kulit domba dari suku Khawarzam dan Jarjan. Imam Al-Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam ceramah nasihat.

Imam Ghazali memulai belajar dikala masih kecil. Mempelajari fiqih dari Syaikh Ahmad Ibn Muhammad al-Radzakani di Kota Thusi. Kemudian di kota Jurjan untuk belajar dari Imam Abu Nashr al-Ismaili dan menulis buku al-Ta’liqat. Kemudian ke kota Naisabur berguru kepada Imam Haramain al-Juwaini dengan penuh kesungguhan dalam mempelajari fiqh mazhab Syafi’i, ilmu perdebatan, usul, manthiq, hikmah dan falsafah. Imam Haramain memiliki 400 murid dan 3 di antaranya adalah Harasi, al-Ghazali, dan Ahmad bin Muhammad. Al Ghazali Pergi ke Baghdad pada usia 28 tahun dan setelah Imam Haramain wafat, ia pergi ke kota Muaskar dan beliau disambut oleh wazir Nidzamul Mulk, dari hal itu jadilah Imam di Khurasan dan tinggal di Muaskar.

Di Baghdad beliau diangkat menjadi rektor pada Madrasah Nizamiyah oleh Nizamul Mulk. Al-Ghazali adalah pengikut dari Imam Syafi’i, seiring berkembangnya pergaulan di Baghdad hingga mengenal mazhab Syi’i, Sunni, Zindiqi, Majusi, Kristen, Yahudi, maupun Atheis.

Akhir kehidupannya, Al-Ghazali lebih giat belajar ilmu agama terutama ilmu Hadits dan berkumpul dengan ahlinya belajar shahihain (sahih bukhari dan muslim). Beliau wafat di desa tempat dulu ia lahir, di Taberan pada 505 Hijriyah/1111 Masehi.

Al-Ghazali bukan hanya populer di dunia Islam melainkan juga populer dalam khazanah keilmuan barat. Dengan kata lain, beliau tidak hanya populer di kalangan kawan, namun juga lawan. Para penulis barat mensejajarkan al-Ghazali dengan filosof kristen St. Agustinus, seorang suci kristen yang mengarang “City of God”. Bedanya, St. Agustinus tetap dikenal sebagai filosof, sedangkan al-Ghazali menempuh jalan sufi bagi pencarian kebenaran.

Bahkan orientalis kenamaan HAR. Gibb menyetarakan al-Ghazali dengan Martin Luther King (Tokoh Pembaharu dan Pendiri Protestan) dalam keluarbiasaannya. Oleh para filosof Barat, pemikiran dan ajaran al-Ghazali banyak diadopsi dan dibahasakan kembali dalam istilah-istilah filsafat dalam sosok kebangkitan dunia barat. Di dunia timur, al-Ghazali ditempatkan setelah Rasulullah sebagai pembaharu dan hujjatul Islam terutama di daerah berkembangnya paham ahlussunnah wal jamaah. Bahkan al-Ghazali adalah salah satu tokoh paling dominan setelah gurunya, al-Juwaini. Bahkan dalam perkembangan berikutnya al-Ghazali dianggap pelopor utama aliran ahlussunnah wal jamaah.

Beberapa karya fenomenal dihasilkan oleh al-Ghazali. Bukan hanya dalam bidang teologi atau filsafat, namun hampir semua disiplin keilmuan beliau kuasai. Itulah kemudian yang melekatkan gelar Hujjatul Islam, layak disandang oleh al-Ghazali. Ada total 228 kitab yang beliau tulis selama masa hidupnya. Beberapa kitab karya Imam al-Ghazali yang mampu dibukukan antara lain:

  1. Bidang Ilmu Agama: Hujjat al-Haq, Al-Iqtisad fil-I`tiqad, Al-Maqsad al-Asna fi Sharah Asma’ Allahu al-Husna, Jawahir al-Qur’an wa Duraruh, Fayasl al-Tafriqa bayn al-Islam Wal-Zandaqa, Mishkat al-Anwar, Tafsir al-Yaqut al-Ta’wil, al-Ajwibah al-Ghazaliyah fi al-Masailil al-Ukhrawiyyah, al-Iqtishad fi al-I’tiqad, al-Jam’u al-Awwam an Ilmi al-Kalam, ar-Risalah al-Quddawiyah fi Qowaidu al-’Aqa’id, Aqidah ahlu al-Sunnah.
  2. Bidang Tasawuf: Adab ash-Shufiyah, al-Adab fi al-Amm, al-Imkan an Asykal al-Ihya’, Ihya’ Ulum al-Din, Ayyuhal Walad, Mizan al-‘Amal,, Bidayat al-Hidayah, Kimiya-ye Sa’adat, Nasihat al-Muluk, Al-Munqidh min al-Dalal, Minhaj al-‘Abidin
  3. Bidang Filsafat: Al-Munqidh min al-Dalal, Maqasid al Falasifa, Tahafut al-Falasifa, Risalah al-Thayr, Miyar al-Ilm fi fan al-Mantiq, Mihak al-Nazar fi al-Mantiq, Al-Qistas al-Mustaqim
  4. Yurisprudensi: Fatawy al-Ghazali, Al-Wasit fi al-Mathab, Kitab Tahzib al-Isul, Al-Mustasfa fi ‘Ilm al-Isul, Asas al-Qiyas, Asrar al-Hajj, Al-Mustasyfa fi ilmi al-Ushul, al-Wajiz fi al-Funn

 

Baca Juga: WASIAT: Pengertian dan Hukumnya Berdasarkan tinjauan Hadits

 

Pandangan al-Ghazali tentang Ontologi

Al-Ghazali sebagai seorang generis pada akhimya menyandarkan pikirannya pada kebenaran mutlak agama Islam, sesuai dengan karya besamya “Ihya’ ‘Ulum ad-Din” (menghidupkan ilmu-ilmu agama). Artinya kebenaran duniawi (sekuler) dianggapnya sebagai awal yang dimiliki oleh setiap manusia, sedangkan kebenaran yang sesungguhnya terpulang kepada Allah yang merupakan sumber kebenaran yang mutlak. Kebenaran duniawi yang bersifat manusiawi itu adalah relatif, dalam artian, pada manusia kebenaran itu cenderung tidak bisa dijadikan patokan kepastian, melainkan hanya kebetulan. Sedangkan kebenaran Allah itu tidak bisa diragukan (Q.S. al-Baqarah: 147).

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Artinya: Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

 

Pandangan al-Ghazali secara eksplisit apabila dihayati secara mendalam jelas relevan dengan ayat di atas, sebab al-Ghazali secara tegas menyandarkan persoalan pencarian kebenaran itu pada kebenaran mutlak yakni Allah. Bagi al-Ghazali, pencapaian kebenaran itu mutlak harus melalui ma’unah (bantuan) Allah yakni berupa hidayah (petunjuk). Karena keyakinannya yang demikian kuat ia meragukan (syak atau skeptis) terhadap aliran-aliran yang ada. Inilah pandangan sufistik al-Ghazali yang cenclerung menafikan kebenaran selain dari kebenaran Allah. Oleh sebab itu pencapaian kebenaran yang mutlak bisa dicapai dengan melakukan pendekatan diri terhadap Allah swt.

Di dalam memahami konsep ilmu al-Ghazali harus dipahami melalui pemahaman sufisnya. Artinya hakikinya ilmu menurut al-Ghazali sumber utamanya adalah Allah. Ilmu sebagai kebenaran semata-mata berasal dari Allah, sumber kebenaran itu adalah Allah, baik tertulis (kitab suci), maupun sumber yang tidak tertulis (alam dan sekitamya), kedua-duanya berasal dari Allah swt. Di sinilah letak pemahaman “monokhotomiknya”, tunggal tidak ada pemisahan antara satu dengan yang lain. Monokhotomik al-Ghazali juga diperoleh dari sikap dan pengakuannya terhadap Allah sebagai sumber ilmu, tidak acla sumber lain di dunia secara hakiki, dan tidak ada sumber ilmu bersifat dikhotomik (mendua).

Pemahaman monokhotomik dalam keilmuan al-Ghazali mempunyai pengertian bahwa ilmu itu hanya satu yakni ilmu Allah, sedangkan ilmu yang terdapat pada manusia, merupakan jalan menuju pengenalan terhadap Allah. Artinya tidak ada dualisme substansial pada manusia. Sekalipun manusia beragam kemampuannya, namun pada hakekatnya manusia hanya sampai pada keterbatasan-keterbatasan saja. Manusia pada akhirnya memperoleh iradah (kehendak) Allah untuk memahami realita kehidupan yang sebenarnya.

Dari konteks pemahaman di atas, al-Ghazali memberikan deskripsi ilmu dalam dua klasifikasi besar yakni ilmu mukasyafah dan ilmu muamalah. Kedua ilmu itu berbeda dari aspek kemampuan manusia untuk mencapainya, namun pada hakekatnya pararel dalam aspek sumbemya. Kedua jenis ilmu itu dalam tataran teologis terpulang kepada Allah sebagai sumbemya, Mukasyafah bermuara langsung kepacla Allah, sedangkan mu’amalah kaitannya tidak secara langsung kepada Allah, karena melalui potensi manusia yang diberikan oleh Allah.

Pembagian ilmu menjadi dua bagian di atas pada dasamya merupakan pembedaan mendasar al-Ghazali dengan aliran-aliran filsafat dan kalam, dan secara jelas sebagai gambaran ia telah memasuki dunia sufi. Hal ini dapat dilihat dari pemahaman mukasyafah yang diungkapkan dalam -.kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din-nya “yakni ilmu yang banya untuk mengetahui apa yang perlu diketahui tidak perlu diamalkan.” Sementara itu ilmu mu’amalah yaitu pengetahuan yang dapat ditulis secara sistematik dan berhubungan dengan kata-kata, yakni hal-hal yang dapat diterima dan dipelajari dari orang lain.

Secara operasional dapat dikemukakan bahwa al-Ghazali mengklaster ilmu menjadi ilmu bathiniyah (mukasyafah) dan ilmu lahiriyah (mu’amalah), atau dengan bahasa lain ilmu yang dicapai secara langsung atas petunjuk Allah (mukasyafah) dan ilmu yang diusahakan/ diperoleh atas dasar komunikasi dengan sesama manusia (mu’amalah), namun secara tidak langsung berasal dari Allah. Atau lebih dikenal dengan ilmu ghairu syariah. Ilmu syari’ah berkaitan langsung dengan pemahaman aturan, hukum Allah yang tertuang dalam ajaran Islam. Sedangkan ilmu ghairu syari’ah berkaitan dengan pemahaman dan pengkajian manusia terhadap yang ditangkapnya langsung dari ayat-ayat alamiyah. Jadi secara singkat al-Ghazali mengklaster ilmu Syariah sebagai ilmu atas dasar ayat qauliyah (tertulis}, sedangkan ilmu ghairu syariah sebagai ilmu atas dasar ayat kauniyah (tidak tertulis ).

Untuk menggambarkan pandangan al-Ghazali tentang substansi ilmu dapat dipahami dari paradigma yang diangkat dari deskripsi Ali Issa Othman secara global:

Paradigma Othman ini memberikan gambaran bahwa substansi ilmu dalam pandangan al-Ghazali adalah satu (monokhotomik) dalam tataran insaniyah. (berdasarkan potensi manusia) yakni ilmu mu’amalah. Sedangkan pada tataran lahiriyah (da1am qudrah Allah) ilmu itu berasal dari yang satu yakni ilmu Allah, dalam hal ini ilmu mukasyafah. Dan muamalah adalah satu berasal dari Allah swt. Berdasarkan ana1isis di atas dapat dipahami bahwa tidak ada dikhotomik ilmu menurut al-Ghazali secara substansial dan ontologik.

 

Pandangan al-Ghazali tentang Epistemologi

Pengembaraan keilmuan a1-Ghazali dengan sikap tidak puas, ragu (syak) terhadap aliran yang cenderung menyandarkan diri pada kemampuan insaniyah yang meliputi kcmampuan indrawi dan akal serta rasa memberikan pengertian bahwa masing-masing aliran mengandalkan potensi kcmampuan tersebut. Kondisi yang sedemikian rupa dilakukan oleh aliran-aliran bathiniyah, kalam dan filsafat yang masing-masing sangat yakin akan keunggulan potensi insaniyah sebagai alat dan sumber memperoleh atau mencapai kebenaran ilmu.

Al-Ghazali secara intelektual terus melakukan penelitian terhadap ketiga aliran tersebut dan ia cenderung keluar dari pemahaman tentang sumber dan a1at mencapai/memperoleh kcbenaran ilmu seperti pandangan aliran bathiniyah, kalam dan filsafat. Ia tidak henti-hentinya melakukan perenungan bahkan sempat meninggalkan tugasnya sebagai guru besar Nizamiyah dan tinggal di Damaskus untuk melakukan meditasi. Meditasi yang ia lakukan selama dua tahun sempat membuatnya mengasingkan diri (zuhud) dari persoalan duniawi. la hanya cendcrung memikirkan persoalan spiritualitas yang menekankan pelestarian hubungan manusia dengan Allah SWT.

Di balik sikapnya terscbut terpancar suatu pemikiran bahwa untuk sampai kcpada kebenaran secara epistemologik manusia memiliki kebebasan, tetapi terdapat keterbatasan. Artinya potensi manusia tidak sampai kepada kebenaran mutlak, melainkan terbatas kepada kebenaran relatif atau semu. Itulah kebenaran insaniyah, sedangkan kebenaran mutlak adalah kebenaran Ilahiyah yang harus didukung oleh bisikan Allah untuk manusia:

…وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ…

 

Artinya: “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui… (al-Nisa: 113)

 

Sejalan dengan ayat di atas al-Ghazali secara jelas mengakui bahwa manusia memiliki potensi untuk memperoleh dan mencapai ilmu. Ia menjelaskan ada tiga macam ilmu yang dapat dituntut oleh manusia, yakni ilmu-ilmu indrawi (hissiyah), ilmu-ilmu akal (aqliyah) dan ilmu laduni (al-dzauq).

Macam-macam ilmu yang dikemukakan di atas mengandung makna bahwa secara jelas al-Ghazali mengakui tiga potensi manusia yang memiliki kemampuan menuntut ilmu. Ketiga potensi itu merupakan alat yang menentukan lahirnya ilmu sesuai dengan jenisnya. Alat-alat dan maksud meliputi: indera (hissiyah), akal·(aqliyah) dan hati (qalbiyah).

Pandangan al-Ghazali apabila dipahami lebih dalam memberikan isyarat bahwa setiap alat/potensi manusia itu menentukan lahirnya jenis ilmu. Panca indera melahirkan ilmu-ilmu yang merupakan produk pemikiran (ilmu aqliyah), sedangkan hati melahirkan ilmu hasil perenungan dan penghayatan manusia (ilmu laduni/ al-dzauq).

Berkaitan dengan klasifikasi ilmu, nampaknya potensi manusia dapat dikaitkan dengan ilmu mu’amalah baik ilmu Syari’ah maupun Ghairu Syari’ah. Potensi itu dikenal dengan sumber basyariyah (manusia/insaniyah) sedangkan sumber ilahiyah terpulang pada pertolongan Allah yang tentunya mampu mencapai hakikat kebenaran (ilmu Mukasyafah). Secara konkrit al-Ghazali mempertegas dominasi panca indera dan akal sebagai potensi manusia untuk mcmperoleh/melahirkan ilmu mu’amalah. Sedangkan hati adalah potensi manusia yang mampu menerobos hakikat ilmu dcngan bantuan Allah. Mukasyafah adalah ilmu yang haoya bisa terbuka atas izin Allah. Hanya hati yang mampu menerobos atas pertolongan Allah melalui bisikan (ilham).

 

Pandangan al-Ghazali tentang Aksiologi

Pemahaman aksiologi (tujuan dan kegunaan) ilmu dalam pandangan al-Ghazali erat kaitannya dengan klasifikasi ilmu yang diajukan secara makro, yakni ilmu Syariah dan Ghairu Syariah. Namun tidak terbatas pada kedua klasifikasi tersebut, al-Ghazali membagi ilmu-ilmu ghairu syariah kepada tiga jenisnya: ilmu terpuji, tercela dan yang dibolehkan bagi manusia menuntutnya.

Menurut al-Ghazali, ilmu-ilmu yang terpuji adalah setiap ilmu yang tidak diabaikan dalam menegakkan urusan dunia, semisal ilmu kedokteran, juga ilmu hitung, pertemuan-pertemuan, politik dan lain-lain. Ilmu-ilmu ghairu syariah yang tercela adalah seperti: Ilmu-ilmu sihir, ilmu mendatangkan ruh, ilmu sulap dari ilmu teluh. Sedangkan ilmu yang mubah seperti tentang syair-syair yang tidak mengandung perkiraan jahat, cerita, dongeng dan sebagainya.

Klasifikasi secara mendetail tentang ilmu yang dikemukakan al-Ghazali dapat dipahami dalam makna aksiologinya, bahwa setiap ilmu itu memiliki tujuan dan kemanfaatan bagi kehidupan manusia, sekalipun ilmu tersebut dalam pandangan al-Ghazali tercela tetapi pada dasarnya memiliki tujan dan kegunaan bagi penuntutnya, terlepas baik maupun buruk

llmu itu jelas memiliki kegunaan dan lahirnya ke dunia secara pasti ada tujuannya. Secara filosofis keberadaan alam dan isinya sebagai sebab munculnya ilmu bahkan juga sebagai sasaran lahirnya ilmu. Di balik itulah dapat dipahami ilmu tersebut. Ilmu-ilmu Syariah sebagai sesuatu yang jelas datangnya dari Allah merupakan syarat manusia untuk menjadi teratur, sebab ia adalah aturan yang sudah baku untuk mengatur manusia agar terarah pada yang benar. Begitu pula ilmu ghairu syariah erat kaitannya dengan potensi dasar manusia (inderawi, atau akal). Artinya ilmu itu tumbuh dan berkembang atas dasar kemampuan-kemampuan manusia dan ia penuh dengan ketidakpastian. Ilmu ghairu syariah tidak baku, oleh karena itu tujuan dan kegunaannya didasarkan atas kepentingan manusia dan tidak melanggar hakikat manusia.

Tujuan terwujudnya ilmu itu dalam pandangan al-Ghazali sangat terpengaruh oleh pemikiran kalamnya yang bersifat teosentrik. Semua ilmu menurut al-Ghazali adalah untuk ibadah (pengabdian kepada al-Khaliq). Hal ini dilihat dari posisi ilmu Syariah yang semata-mata berisikan ilmu agama yang sangat sarat dengan nuansa ukhrawi. Sedangkan ilmu ghairu syariah dimensinya pada ilmu yang terpuji (ilmu duniawi untuk kemaslahatan umat).

Terhadap kedua ilmu tersebut sikap al-Ghazali meletakkan dua hukum fiqh yang sangat psikologik, yakni hukum fardhu ‘ain mempelajarinya bagi ilmu syariah dan fardhu kifayah bagi ilmu ghairu syariah.

Penetapan untuk menuntut ilmu, al-Ghazali meninjaunya dari aspek penuntut ilmu, di samping aspek substansi ilmu itu sendiri. Dari aspek penuntutnya, al-Ghazali menegaskan adanya keterbatasan manusia, artinya manusia secara jasmani apalagi rohani sangat terbatas untuk memperoleh ilmu itu khususnya ilmu ghairu syariah. Sedangkan dari aspek substansinya, ilmu syariah merupakan ilmu yang sudah baku dan sudah jelas (Qath’i). Oleh karena itu wajib untuk dicapai sebab manusia tidak banyak memerlukan penalaran pemikiran. Sedangkan ilmu ghairu syariah merupakan ilmu yang harus diolah manusia, karena belum baku dan relatif (Dzanni). Oleh karena itu wajib kifayah menuntutnya karena tergantung kepada keragaman kemampuan manusia.

Jadi hukum mempelajari ilmu menurut al-Ghazali ditujukan kepada tujuan dan kegunaan ilmu itu. Karena setiap ilmu memiliki tujuan dan kegunaan bagi penuntutnya. Oleh karena itu al-Ghazali memaknai hadis Baihaqi sebagai fardhu dalam arti kewajiban muslim. Artinya setiap muslim wajib menuntut dan mencapainya.

Pengertian kewajiban jelas berkaitan dengan tujuan menuntut ilmu, yakni untuk ibadah dan kegunaan ilmu atau ilmu itu sendiri yakni sebagai sarana manusia untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal ini sesuai dengan susbtansi ilmu syariah (agama) dan ilmu ghairu syariah khususnya ilmu terpuji (kedokteran, hitung, astronomi dan kepentingan duniawi lainnya) yang arahnya adalah kemaslahatan manusia. Artinya dengan wajibnya orang menuntut ilmu memberikan implikasi wajib melaksanakan ibadah dan memikirkan kemaslahatan manusia. Hal inilah yang dapat diungkap dari pandangan al-Ghazali tentang hukum menuntut ilmu.

Barangkat dari makna di atas dapat dipahami bahwa pandangan aksiologi ilmu al-Ghazali mengarah kepada ibadah dan kemaslahatan manusia dan alam. Secara ringkas dapat dipahami secara konseptual dengan istilah bersifat teosentrik dan antroposentrik, yaitu bersifat ketuhanan dan kemanusiaan, baik teosentrik maupun antroposeritrik pada dasamya adalah ibadah kepada Allah swt karena bemilai kebaikan.

 

Tinggalkan komentar