HADIS SAHIH: Ciri-ciri hadis Sahih dalam Ilmu Hadis

HADIS SAHIH: Ciri-ciri hadis Sahih dalam Ilmu Hadis

Hadis Sahih – Berbicara soal hadis, tentu pikiran kita akan tertuju pada hadis-hadis Rasulullah Saw., karena dari Beliaulah hadis-hadis tersebut bersumber. Namun, kita tidak boleh asal mengambil hadis Rasulullah sebagai pijakan atau dalil. Kita harus tahu terlebih dahulu mana hadis yang benar dari Rasulullah, mana yang samar, dan mana yang palsu. Oleh karenanya, penting bagi kita mengetahui pembagian hadis. Kita mulai dari hadis sahih.

  1. Pengertian

Kata “Shahih” (الصحيح) dalam bahasa diartikan orang sehat antonim dari kata “as-saqim” (السقيم) orang yang sakit jadi yang dimaksudkan hadis shahih adalah hadis yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat.   Dalam istilah hadis shahih adalah:

هو ما اتصل سنده بنقل العدل الضابط ضبطا كاملا عن مثله وخلا من الشذوذ والعلة.

” (Hadis Shahih) adalah hadis yang muttashil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh orang adil dan dhabith (kuat daya ingatan) sempurna dari sesama, selamat dari kejanggalan (syadzdz), dan cacat (‘illat).

الحديث الصحيح هو الحديث الذي سلم لفظه من ركالة ومعناه من مخالفة آية أو حديث متواتر أو إجماع وكان رواته عدولا وضباطا

            “Hadis sahih adalah hadis yang susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran), hadis mutawatir, atau ijma’ serta para rawinya adil dan dhabith.”

 

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Hadis Shahih mempunyai 5 kriteria (syarat), yaitu:

1. Persambungan sanad (اتصال السند)

Artinya tiap perawi dalam sanad bertemu dan menerima periwayatan dari perawi sebelumnya baik secara langsung (مباشرة) atau secara hukum (حكمي) dari awal sanad sampai akhirnya. Pertemuan atau persambungan sanad ada dua macam lambang yang digunakan oleh para periwayat, yaitu:

a. Pertemuan langsung (مباشرة), seseorang bertatap muka langsung dengan syaikh yang menyampaikan periwayatan. Maka ia mendengar berita yang disampaikan atau melihat apa yang dilakukan. Periwayatan dalam bentuk pertemuan langsung seperti di atas pada umumnya menggunakan lambang ungkapan:

سمعت: aku mendengar

حدثني/أخبرني/حدثنا/أخبرنا: memberitahukan kepadaku/kepada kami

رأيت فلانا: aku melihat si fulan, dan lain sebagainya

Jika dalam periwayatan sanad hadis menggunakan kalimat tersebut atau sesamanya maka berrarti sanadnya muttashil (bersambung).

b. Pertemuan secara hukum (حكمي), seseorang meriwayatkan hadis dari seseorang yang hidup semasanya dengan ungkapan kata yang mungkin mendengar atau sungkin melihat, misalnya:

قال فلان/ عن فلان/ فعل  فلان: si fulan berkata…/dari si fulan/ si fulan melakukan begini.

Persambungan sanad dalam ungkapan kata ini masih secara hukum, maka perlu penelitian lebih lanjut, sehingga dapat diketahu denagn benar apakah ia bertemu dengan Syaikhnya atau tidak.

 

2. Keadilan para perawi (عدالة الرواة)

Secara bahasa adil berarti lurus, tidak berat sebelah, tidak dzalim, tidak menyimpang, tulus dan jujur. Pengertian adil dalam bahasa Arab adalah seimbang atau meletakkan sesuatu pada tempatnya, lawan dari dzalim. Dalam istilah periwayatan orang yang adil adalah:

من استقام دينه و حسن خلقه و سلم من الفسق وخوارم المرؤة

            “Adil adalah orang yang konsisten (istiqamah) dalam beragama, baik akhlaknya, tidak fasiq, dan tidak melakukan cacat muru’ah.”

Dalam menilai keadilan, seseorang tidak harus meneliti ke lapangan langsung, dengan cara bertemu langsung. Hal ini sangat sulit dilakukan karena mereka para rawi hadis hidup pada abad awal dalam perkembangan Islam. Kecuali bagi mereka yang hidup bersamanya atau yang hidup sezaman. Oleh karena itu, dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakukan dengan salah satu tehnik berikut:

  1. Keterangan seorang atau beberapa ulama ahli ta’dil bahwa seorang itu bersifat adil, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab al-jarh wa ta’dil.
  2. Ketenaran seseorang bahwa ia bersifat adil, seperti imam empat Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

 

3. Para perawi bersifat dhabith (ضبط الرواة)

Kata dhabith menurut bahasa artinya yang kokoh, yang kuat. Dan perawi yang dhabith maksudnya adalah perawi yang memiliki daya ingat dan hafalan yang kuat.

Menurut Ibn Hajar al-Atsqalani, Perawi yang dhabith adalah mereka yang kuat hafalannya terhadap segala sesuatu yang pernah didengarnya, kemudian mampu menyampaikan hafalan tersebut manakala diperlukan. Ini artinya bahwa orang yang disebut dhabith harus mendengarkan secara utuh apa yang diterima atau didengarnya, memahami isinya, sehingga terpatri dalam ingatannya, kemudian mampu menyampaikan kepada orang lain atau meriwayatkanya sebagaimana mestinya.

Yang dicakup dalam pengertian dhabith dalam periwayatan di sini terdiri atas dua kategori, yaitu:

  1. Dhabith dalam dada (ضابط في اصدور), artinya terpeliharanya periwayatan dalam ingatan sejak ia menerima hadis dari seorang syaikh atau seorang gurunya sampai dengan pada saat menyampaikannya kepada orang lain atau ia memiliki kemampuan untuk menyampaikannya kapan saja diperlukan kepada orang lain.
  2. Dhabith dalam tulisan (ضا بط في السطورأي الكتاب), artinya terpeliharanya suatu periwayatan melalui tulisan.

Adapun sifat kedhabithan perawi dapat diketahui melalui:

  • Kesaksian para ulama’
  • Kesesuaian riwayatnya dari orang lain yang telah dikenal kedhabithannya.

Seorang perawi hadis tidak berarti ia terhindar sama sekali dari kekeliruan atau kesalahan. Mungkin saja kekeliruan atau kesalahan itu sesekali terjadi pada diri seorang perawi. Yang demikian tidak dianggap sebagai orang yang kurang kuat hafalannya.

4. Tidak terjadi kejanggalan (شاذ)

Yang dimaksud dengan syadz atau syudzudz di sini adalah suatu hadis yang bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh perawi lain yang lebih kuat atau lebih tsiqah. Ini pengertian yang dipegang oleh asy-Syafi’i dan diikuti oleh kebanyakan ulama lainnya.

Melihat pengertian syadz di atas, dapat dipahami bahwa hadis yang tidak syadz adalah hadis yang matannya tidak bertentangan dengan hadis lain yang lebih kuat atau lebih tsiqah.

Contoh syadz yang diriwayatkan oleh muslim melalui jalan Ibnu Wahb sampai pada Abdullah bin Zaid dalam memberikan sifat wudlu’ Rasulullah Saw.:

أنه مسح برأسه بماء غير فضل يده

            Bahwa Beliau menyapu kepalanya dengan air yang bukan kelebihan/sisa dari tangannya.”

أنه أخذ لأذنيه ماء خلاف الماء الذي أخذ لرأسه

            “Bahwasanya Beliau mengambil air untuk kedua telinganya selain air yang diambil untuk kepalanya.”

Periwayatan Baihaqi syadz (janggal) dan tidak shahih, karena periwayatannya dari Ibnu Wahb seorang tsiqah, menyalahi periwayatan jamaah ulama dan muslim yang tsiqah.

5. Tidak terjadi ‘illat (عدم العلة)

Kata illat/ilal  menurut bahasa berarti cacat, penyakit, keburukan, dan kesalahan baca. Dengan demikian yang disebut hadis ber-illat adalah hadis-hadis yang mengandung cacat atau penyakit.

Menurut istilah, illat berarti suatu sebab yang tersembunyi atau samar-samar sehingga dapat merusak keshahihan hadis. Dikatakan samar-samar di sini karena jika dilihat dari segi dhahirnya, hadis tersebut terlihat shahih. Adanya kesamaran pada hadis tersebut, mengakibatkan nilai kualitasnya menjadi tidak shahih. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan hadis yang tidak berillat adalah yang hadis-hadis yang di dalamnya tidak terdapat kesamaran atau keraguan.

Demikian penjelasan tentang hadis shahih. Semoga bermanfaat untuk kita agar semakin hati-hati dan teliti dalam menggunakan dalil-dalil hadis setiap harinya.

Semoga Bermanfaat 

 

Tinggalkan komentar