HUKUM ISLAM: Pengertian, Tujuan, dan penerapannya (Lengkap)

HUKUM ISLAM: Pengertian, Tujuan, dan penerapannya (Lengkap)

Hukum Islam – Ratusan tahun sudah Rasulullah Saw. telah meninggalkan umat Islam. namun dalam kisaran waktu tersebut telah terpancar sinar-sinar kejayaan yang merupakan masa emas umat Islam. Islam tersebar luas di seluruh jazirah arab dan sekitarnya yang menyebabkan masuknya orang ‘ajam ke dalam Islam, yang mana mereka membawa banyak pola kehidupan yang tidak sesuai dengan tatanan Islam.

Pada saat itulah, hukum Islam ditegakkan untuk menghapus adat yang tidak sesuai dengan hukum Islam, sehingga syari’at agama Islam dapat dijalankan tanpa ada  rasa ragu dan bimbang.

Sebagai sebuah doktrin yang menjadi pedoman dan pegangan umat manusia, agama Islam hadir dengan segala syari’atnya sebagai penyempurna agama-agama Allah terdahulu, menyempurnakan ajaran dan syari’at-syari’at yang akan mengantarkan manusia, khususnya orang-orang yang beriman menuju gerbang kebahagiaan di dunia dan akherat.

 

Definisi hukum Islam

Hukum IslamIstilah hukum Islam dalam bahasa arab adalah fiqh dan syari’ah, atau hukum syara’. Seacara bahasa, Syari’ah berarti al-‘utbah (lekuk-liku lembah) al-‘atabah (ambang pintu dan tangga), mauridu al-syaribah (jalan peminum mencari tempat air), dan al-thariq al-mustaqimah (jalan yang lurus).

Adapun dalam arti terminology syari’ah adalah:

ما سنه الله لعباده من أحكام عقائدية أو عملية أو خلقية

“Apa yang telah ditetapkan Allah untuk hamba-Nya,baik dalam bidang keyakinan (i’tiqodiyyah), perbuatan maupun akhlak.” 

Dengan demikian, syari’ah adalah peraturan yang telah ditetapkan (diwahyukan) oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. untuk manusia yang mencakup tiga bidang, yaitu: keyakinan (ilmu kalam atau tauhid), ‘amaliyah (fiqh), dan akhlaq (tasawwuf).

Hasbi ash-Shiddieqy memberi arti bahwa syari’at adalah hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan Allah Swt. untuk hamba-Nya agar diikuti dalam hubungannya dengan Allah dan hubungannya dengan sesama manusia. Sedangkan Farouk Abu Zaid menjelaskan sebagaimana yang dikutip oleh Ismail Muhammad Syah bahwa syari’at adalah apa-apa yang ditetapkan Allah melalui lisan Rasul-Nya.

 

Macam-macam Hukum Islam

Dengan melihat pada subjek penetapan hukumnya, para ulama membagi tasyri’ atau hukum menjadi dua, yaitu tasyri’ samawi (hukum ilahi), dan tasyri’ wadh’i (hukum buatan manusia) dan ini bersumber dari produk pemikiran ijtihad yang disebut dengan fiqh. Baik tasyri’ illahi maupun wadh’i berperan untuk menunjukkan umat manusia dalam kehidupan secara baik, manghilangkan adat istiadat yang menuimpang, dan meluruskan umat ke jalan yang benar.

 

Prinsip-Prinsip Hukum Islam

Hukum IslamSebagai agama yang diridhoi di sisi Allah Swt. Islam memiliki prinsip-prinsip atau nilai-nilai keagamaan yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa menjalankan segala syari’at atau norma agamanya. Diantara prinsip tersebut adalah:

 

a. Menegakkan maslahah

Maslahat berasaladari kata al-shulh atau  al-ishlah yang berarti damai dan tentram. Damai berorientasi pada fisik sedangkan tentram berorientasi pada psikis. Adapun yang dimaksud maslahah secara terminology adalah:

جلب النفع و دفع الضرر عنهم                                                                         

“Perolehan manfaat dan penolakan terhadap kesulitan.”

 

b. Menegakkan keadilan (tahqiq al-‘adalah)

Keadilan memilki beberapa arti. Secara bahasa adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya (wadh’u al-syai’ fi mahalli). Murtadha muthahari menjelaskan bahwa pengertian pokok keadilan adalah sebagai berikut:

  1. Perimbangan atau keadaan seimbang (mauzun). Dalam makna ini keadilan antonim dari kekacauan.
  2. Persamaan (musawah) atau ketidakadaan diskriminasi dalambentuk apapun. Hal ini didasarkan pada prinsip demokrasi dan Universal Declaraation of Human Right (UDHR) yang dibangun atas dasar persamaan.
  3. Penunaian hak sesuai dengan kewajiban yang diemban.
  4. Keadilan Allah, yaitu kemurahan-Nya dalammelimpahkan rahmat kepada seseorang sesuai dengan tingkat kesediaan yang dimilikinya.

 

c. Tidak menyulitkan (‘adam al-haraj)

Al-haraj memiliki beberapa arti, diantaranya adalah sempit, sesat, paksa dan berat. Adapun terminologinya adalah:

كل ما أدى إلي مشقة في البدن والمال حالا ومالا

“Segala sesuatu yang menyulitkan badan, jiwa, atau harta secara berlebihan, baik sekarang maupun dikemudian hari.”

Di antara cara meniadakan kesulitan adalah sebagai berikut:

  1. Pengguguran kewajiban, yaitu dalam keadaan tertentu kewajiban ditiadakan, seperti ketidakwajiban melakukan ibadah haji bagi yang “bangkrut” atau keadaan tidak aman.
  2. Pengurangan kadar yang telah ditentukan,umpamanya qashar sholat bagi yang sedang dalam perjalanan.
  3. Penukaran, yaitu penukaran kewajiban yang satu dengan yang lainnya. Umpamanya kewajiban wudlu’dan mandi (junub) diganti dengan tayammum.
  4. Mendahulukan, yaitumengerjakan sesuatu sebelumwaktu yang telah ditentukan secara umum (asal),seperti jama’ taqdim.
  5. Menangguhkan, yaitu mengerjakan sesuatu setelah waktunya yang asal telah tiada, seperti jama’ta’khir
  6. Perubahan, yaitu bentuk perbuatan yang berubah-ubah sesuai dengan situasi yang dihadapi.

 

d. Menyedikitkan Beban (takli al-takalif)

Taklif secara bahasa berarti beban. Arti etimologinya adalah menyedikitkan. Adapun secara istilah yang dimaksud dengan taklif adalah: 

طلب الله للفعل حتي يعتبر طاعة وامتثالا لأوامر الله

“Tuntutan Allah untuk berbuat sehingga dipandang taat dan (tuntutan) untuk menjauhi larangan Allah.”

Dengan demikian,yang dimaksud takli al-takalif secara terminologi adalah:

تقليل طلب الله للفعل حتي يعتبر طاعة وامتثالا لأوامر الله

          “Menyedikitkan tuntutan Allah untuk berbuat sehingga dipandang taat dan (tuntutan) untuk menjauhi larangan Allah.”

 

e. Berangsur-angsur (tadrij)

Di antara bidang hukum Islam yang dibentuk secara berangsur-angsur adalah sebagai berikut:

  1. Shalat
  2. Pengharaman riba
  3. Pengharaman khamr

 

Tujuan Hukum Islam

Hukum IslamTujuan hukum Islam dalam arti al-Syar’i mengandung empat aspek, yaitu:

  1. Kemaslahatan manusia di dunia dan di akherat
  2. Syari’at sebagai sesuatu yang harus dipahami.
  3. Syari’at sebagai suatu hukum taklif yang harus dilakukan.
  4. Membawa manusia ke bawah naungan hukum.

Selain itu, Abu al-Shatib merumuskan 5 tujuan hukum Islam, yaitu:

  • Memelihara agama maksudnya adalah memelihara akhlaq, aqidah, dan syari’at Islam.
  • Memelihara jiwa, maksudnya adalah hukum islam itu ada dan dibuat untuk melindungi hak asasi manusia.
  • Memelihara akal, maksudnya adalah bahwa dengan hukum Islam kita dapat berpikir tentang Allah beserta alam semesta sebagai ciptaan-Nya.
  • Memelihara keturunan, maksudnya adalah menjaga hubungan darah dalam keluarga.
  • Memelihara harta, maksudnya adalah menjaganya dari penipuan dan pencurian serta peralihan uang yang belum jelas yang dapat merugikan kita.

Selain itu, tujuan hukum Islam dapat pula dilihat dari dua segi, yaitu:

  1. Dilihat dari sang pembuat hukum Islam, yaitu Allah dan Rasul-Nya.
  2. Pemenuhan kebutuhan prmer (dharuri), sekunder (hajjiyah), dan tertier (tahsiniyah)
  3. Ditaati dan dilaksanakan oleh manusia
  4. Meningkatkan kemampuan untuk memahami hukum Islam lebih mendalam
  5. Pelaku hukum Islam, yaitu manusia.
  6. Mencapai kehidupan yang berbahagia
  7. Dapat mencapai keridhaan Allah di dunia dan di akherat.

 

IMPLEMENTASI HUKUM ISLAM

a. RESPON MASYARAKAT TERHADAP HUKUM ISLAM

Sejak diangkatnya Nabi Muhammad Saw. menjadi nabi dan rasul Allah di muka bumi ini, beliau telah mengemban amanah suci untuk memperbaiki tatanan akhlak dan moral bangsa jahiliyyah pada khususnya dan ummat manusia pada umumnya. Melihat sejarah masa-masa awal Islam, tentu  persebaran agama ini tidak semudah yang kita bayangkan, apalagi kaum kafir Quraisy tergolong orang-orang yang temperamen dan memegang teguh ajaran nenek moyang mereka meskipun menurut kacamata Islam ajaran mereka terbukti salah.

Cacimaki dan lemparan berbagai kotoran hewan tak pernah berhenti menghiasi hari-hari Rasulullah Saw. dan kaum yang beriman, pun demikian berbagai macam siksaan tak henti-hentinya mendera, menguji mental dan kualitas iman mereka. Itulah gambaran awal respon masyarakat terhadap agama yang menurut mereka masih baru dan asing.

Di samping itu, tidak sedikit pula orang-orang yang memberikan respon positif terhadap kehadiran Islam dengan segala syari’atnya tersebut. hal ini mengacu kepada kebutuhan batiniyah mereka yang seolah-olah telah haus dan dahaga akan guyuran hikmah dan keinginan untuk mengentaskan diri dari kubangan lumpur Jahiliyyah. Maka kedatangan agama Islam ini seolah menjadi oase di tengah keringnya jiwa mereka akan ketentraman hidup. Oleh karenanya, mereka menyambut agama ini dengan penuh antusias dan keyakinan yang tinggi walaupun merekaharus mendapatkan siksaan dan kepedihan yang bertubi-tubi.

Hal yang senada juga masih sering kita lihat dan kita temukan diera global seperti saat ini, bahkan bentuk penolakan mereka lebih variatif darimasa Rasulullah dulu. Selain bentuk penganiayaan dan kekerasan fisik yang terus dilancarkan untuk menekan Islam, serangan yang tak kalah dahsyatpun juga mereka tujukan kepada Islam. Hal ini terlihat dari sikap orang-orang kafir yang terus berusaha menancapkan paham-paham mereka seperti leberalisme, sekulerisme, komunisme,dll,untuk diterapkan di semua Negara Islam yang menerapkan sistem syari’ah, seolah-olah mereka tidak pernah rela melihat perkembangan dan kemajuan Islam.

 

b. KEDUDUKAN HUKUM ISLAM DALAM PEMERINTAHAN INDONESIA

Kedudukan hukum Islam dalam tatanan hukum di Indonesia adalah sebagai solusioner dalam memperbaharui hukum negara. Indonesia sendiri adalah Negara hukum yang sejak berdirinya sudah berkeinginan untuk membentuk hukum nasionalnya sendiri. Namun, pada waktu itu pemerintah mengeluarkan UU no.1 tahun 1946 yang isinya masih memberlakukan UU hukum pidana Hindia Belanda. Memang yang dilakukan pemerintah tersebut meruoakan sesuatu yang wajar, dikarenakan Indonesia masih seumur jagung, masih beberapa bulan m resmi negara saja merdeka, dan pemerintah juga disibukkan oleh hal-hal yang lebih penting seperti mempertahankan kemerdekaan. Maka sebenarnya UU tersebut dibuat hanya untukmengisi kekosongan hukum. Maka setelah itullah hukum Islam memiliki peran penting untuk memperbaharui hukum di Indonesia.

Hukum Islam di Indonesia sudah ada sejak 13 M, ditandai dengan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, seperti Samudra Pasai di pesisir utara Sumatra, kerajaan Demak, kerajaan Banten dan masih banyak lagi, yang mana tatanan hidup mereka menetapkan hukum Islam untuk melakukan aktivitas mereka sehari-hari.

Perlu kita akui bahwa hukum Islam memang bukanlah hukum resmi negara kita, akan tetapi hukum Islam telah diakui oleh peraturan perundangan-undangan yang berlaku di Indonesia dan sudah berkembang di masyarakat dan di pengadilan.

 

c. HUKUM ISLAM DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA

Meskipun Indonesia bukan Negara Islam, tapi hukum Islam perlu diterapkan di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk membentuk manusia muslim yang di samping dapat melakukan ibadah mahdhah, juga dapat melaksanakan ibadah mu’amalah yang kedudukannya sebagai perseorangan atau sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan tertentu.

Hukum Islam juga diperlukan untuk dapat membentuk warga Negara yang bertanggungjawab kepada Allah sebagai penciptanya.

Penerapan hukum Islam di Indonesia ini dapat dilakukan di berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan dan dakwah. Dakwah merupakan sarana penyebaran agama Islam yang wajib hukumnya. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an:

يبني أقم الصلوة وأمر بالمعروف وانه عن  المنكر واصبرعلي ما أصابك, إن ذلك من عزم اللأمور     

Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Namun demikian, penerapan hukum Islam tersebut harus sesuai dengan kondisi masyarakat, kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada mereka. Karena masyarakat akan selalu berkembang sejalan dengan pengglobalan dunia saat ini. Karena sesungguhnya hukum Allah yang dititahkan melalui wahyu hanya bersifat aturan dasar hukum yang bersifat global, maka perlu dirumuskan secara rinci dan operasional, agar dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu diera globalisasi ini, penerapan hukum Islam dapat dilakukan dengan dibukanya pintu ijtihad baru yang dapat mencetuskan hukum dan menjawab semua problematika yang saat ini dihadapi oleh masyarakat.

Penerapan hukum Islam itu bukan hanya diperuntukkan bagi orang Islam saja, tapi seluruh umat manusia di seluruh dunia. Karena sesungguhnya agama Islam itu sendiri adalah rahmatan lil’alamin, yaitu rahmat bagi semua penduduk dunia yang dapat mengayomi kita semua dari perbuatan-perbuatan yang merugikan diri kita sendiri dan orang lain di sekeliling kita di bawah naungan Islam.

 

Kesimpulan

Agama Islam adalah wahyu yang diturunkan Allah Swt. kepada rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap manusia sepanjang masa dan setiap tempat merupakan satu system keyakinan   dan tata ketentuan yang mengatur segala prikehidupan dan penghidupan manusia dalam berbagai hubungan, baik hubungan dengan Tuhan maupun sesame manusia serta alam semesta.

Maka dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan:

  1. Hukum Islam atau syari’ah adalah peraturan yang telah ditetapkan (diwahyukan) oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. untuk manusia yang mencakup tiga bidang, yaitu: keyakinan (ilmu kalam atau tauhid), ‘amaliyah (fiqh), dan akhlaq (tasawwuf).
  2. Hukum Islam memiliki tujuan yang mulia, yaitu kemashlahatan manusia, karena barang siapa yang mengamalkannya, maka kebahagianlah yang akan ia dapatkan, nuykan hanya di dunia namun juga di akherat kelak yang jauh lebih kekal.
  3. Walaupun Islam telah diakui sebagai agama yang paling benar, namun tidak semua orang mau menerima keberadaan syari’atnya. Hal ini tercermin dari kebencian mereka yang tekah menjamur sejak zaman Abu jahal sampai George W. Bush yang terus memusuhi Islam dan menginginkan kehancurannya.
  4. Hukum Islam memang bukanlah hukum resmi Negara Indonesia, akan tetapi hukum Islam sudah diakui oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan yang sudah berkembang di masyarakat dan di pengadilan-pengadilan khususnya dipengadilan bersama.
  5. Hukum Islam dapat diterapkan di berbagai bidang, seperti pendidikan, social, politik, ekonomi, dll. Dan salah satu metode yang paling efektif adalah melalui usaha dakwah yakni mensosialisasikan syari’at Islam kepada masyarakat luas.

Semoga Bermanfaat

 

 

Tinggalkan komentar