PENGERTIAN PUASA: Sejarah, adab, rukun, dan hikmahnya (LENGKAP)

PENGERTIAN PUASA: Sejarah, adab, rukun, dan hikmahnya (LENGKAP)

Puasa – Salah satu ibadah penting dalam Islam yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya adalah puasa. Puasa adalah salah satu pilar dalam rukun Islam. Mereka yang berpuasa akan mendapat pahala yang luar biasa besarnya. Mereka yang melanggar, maka hukuman dan adzab pedih menanti. Puasa memiliki dua dimensi, dimensi vertikal dan horizontal. Puasa menjadi bukti penghambaan seorang hamba, juga menjadi bukti kasih kepada sesama. Oleh karena pentingnya puasa, maka akan dibahas dalam materi ini tentang pengertian puasa, sejarah, hukum, adab dan hikmahnya.

PENGERTIAN PUASA

Pengertian Puasa
Pengertian Puasa

Secara bahasa pengertian puasa adalah menahan diri dari perbuatan makan dan minum pada waktu tertentu. Menurut istilah pengertian puasa adalah Menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa disertai dengan niat, dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa adalah rukun Islam yang keempat yang diwajibkan untuk semua umat Islam. Puasa bukanlah ibadah yang baru, melainkan sudah menjadi tradisi umat-umat terdahulu. berdasarkan pengertian puasa ini bisa dikatakan bahwa disyariatkannya puasa adalah sangat relevan dengan spirit keagamaan.

Dalam al-qur’an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183)

 

SEJARAH DIWAJIBKANNYA PUASA

Pengertian Puasa
Pengertian Puasa

Sebelum turun kewajiban puasa Ramadhan, Nabi Muhammad SAW berpuasa di hari Asyura. Bahkan Beliau berpuasa Asyura di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah. Seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori ra. dari Sayyidah Aisyah ra bahwa ia berkata:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَا يَصُومُهُ

“Dahulu, hari asyura adalah hari di mana kaum quraisy berpuasa pada masa jahiliyyah. Adalah Rasulullah SAW berpuasa pada hari asyura. Ketika Beliau datang ke Madinah, beliau juga puasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa asyura. Lalu ketika turun (wajibnya puasa) Ramadhan, barangsiapa yang mau, ia boleh berpuasa padanya, barangsiapa yang mau ia boleh juga untuk tidak berpuasa padanya. (HR. Bukhori)

 

Puasa Asyura di sini menurut pendapat yang rajih tidaklah diwajibkan atas Rasul SAW dan kaum Mukminin. Hukum melaksanakan puasa ini sunnah semata. Pada tahun kedua dari Hijrah, pada malam kedua dari Sya’ban, turun kewajiban puasa atas kaum Muslimin; dengan firman-Nya:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (yaitu) dalam beberapa hari tertentu… (QS. Al-Baqarah: 183-184)

 

PENJELASAN AL-BAQARAH: 183

Fiman Allâh: “Telah diwajibkan atas kalian” mengindikasikan bahwa puasa jenis apapun tidak diwajibkan atas mereka sebelum itu. Karena itulah kebanyakan para ulama berpendapat bahwa sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, tidak ada puasa yang diwajibkan atas umat ini, sesuai dengan ayat di atas. Dan juga berdasarkan apa yang diriwayatkan al-Bukhâri dan Muslim dari Muawiyah ra, ia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Ini adalah hari Asyura; sedangkan Allâh tidak mewajibkan atas kalian untuk berpuasa padanya. Namun aku berpuasa (pada hari Asyura). Barangsiapa yang suka, ia boleh berpuasa,ataupun bisa pula baginya untuk tidak berpuasa.” [Risâlah Ramadhân Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, hlm 20-24]

Adapun firman Allâh:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

 (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu… [Al-Baqarah/2: 184]

 

Ada yang mengatakan, itu adalah hari-hari bukan pada bulan Ramadhan; yang berjumlah 3 hari. Ada lagi yang mengatakan bahwa maksudnya adalah hari-hari Ramadhan. Karena itu dijelaskan dalam ayat selanjutnya dalam firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, [Al-Baqarah/ 2: 185]

Para ulama mengatakan: bahwa kaum Muslimin dulu pada awalnya, diberi pilihan antara berpuasa atau memberi fidyah; yaitu berdasarkan firman-Nya:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [Al-Baqarah/ 2: 184]

 

Kemudian pilihan tersebut dinasikh dengan diwajibkannya puasa sebagaimana firman Allah:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, [Al-Baqarah/ 2: 185]

 

ORANG YANG WAJIB PUASA:

Adapun mereka yang dibebani kewajiban puasa antara lain: Islam, baligh, berakal (waras), mampu, muqim, sehat.

 

ADAB-ADAB PUASA:

Pengertian Puasa
Pengertian Puasa

Puasa memiliki adab-adab agar puasa kita menjadi lebih berdaya, antara lain:

  1. Makan sahur
  2. Makan sahur dengan kurma
  3. Menunda makan sahur hingga akhir waktu
  4. Menyegerakan berbuka
  5. Berbuka dengan ruthab (kurma segar), atau tamr (kurma kering), atau air putih
  6. Do’a ketika sedang puasa dan setelah berbuka
  7. Menjaga diri dari segala bentuk maksiat dan dosa
  8. Shadaqah
  9. Membaca Al Qur’an
  10. Bersungguh-sungguh dan meningkatkan ibadah pada sepuluh terakhir Ramadhan
  11. I’tikaf
  12. Siwak
  13. Tidak berlebih-lebihan dalam berkumur atau membasuh hidung ketika berwudhu’
  14. Tidak mendahului Ramadhan dengan puasa nafilah satu atau dua hari

 

RUKUN-RUKUN PUASA:

Sebagaimana ibadah lainnya, puasa juga memiliki rukun. Adapun rukun puasa adalah:

  1. Untuk puasa wajib, harus niat sebelum masuk waktu shalat subuh
  2. Tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa

 

PEMBATAL-PEMBATAL PUASA:

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan ibadah puasa agar puasa kita sah dan bernilai ibadah, antara lain:

  1. Riddah (keluar dari agama Islam)
  2. Makan dan minum dengan sengaja
  3. Jima’
  4. Keluarnya mani dengan sengaja
  5. Keluarnya darah haid atau nifas
  6. Obat atau suntikan yang dapat mengganti fungsi makanan, termasuk transfusi darah
  7. Muntah dengan sengaja
  8. Keluarnya darah dalam jumlah banyak secara sengaja: hijamah, donor darah, dll

 

BUKAN PEMBATAL PUASA:

Beberapa orang ada yang khawatir puasanya batal karena melakukan beberapa aktivitas. Para ulama sepakat hal-hal berikut tidak masuk dalam hal-hal yang membatalkan puasa:

  1. Celak mata
  2. Obat tetes mata atau hidung atau telinga
  3. Parfum dan wangi-wangian
  4. Suntikan pengobatan
  5. Keluarnya madzi
  6. Debu atau lalat terbang yang masuk ke tenggorokan dan tertelan
  7. Obat hirup
  8. Obat kumur
  9. Obat pada luka
  10. Menelan air liur atau dahak biasa
  11. Keluar sedikit darah, seperti luka atau pemeriksaan golongan darah
  12. Pembatal-pembatal puasa yang dilakukan tanpa sengaja

 

ORANG-ORANG YANG TIDAK BERPUASA:

Di antara kaum muslim yang berpuasa, ada beberapa dari mereka yang boleh meninggalkan puasa, tentunya karena udzur syar’i. Namun, mereka memiliki kewajiban sebagai kaffarat atas puasa yang ditinggalkan. Antara lain:

A. Kewajibannya adalah qadha’ (mengganti dengan puasa setelah Ramadhan sejumlah hari-hari yang dia tinggalkan)

  1. Orang sakit sementara yang ada kemungkinan sembuh
  2. Pingsan
  3. Musafir
  4. Haidh
  5. Nifas
  6. Orang yang sengaja membatalkan puasa karena uzdur syar’i
  7. Wanita menyusui yang tidak puasa karena khawatir terhadap kondisi dirinya atau kondisi dirinya bersama bayinya (ket: ketetapan tidak mampu dapat lewat pengalaman atau pengamatan langsung kondisi ibu atau keterangan dokter terpercaya)
  8. Wanita hamil yang meninggalkan puasa karena khawatir terhadap kondisi dirinya atau kondisi dirinya bersama janinnya (ket: sda.)

 

B. Kewajibannya adalah ith’aam (mengganti dengan memberi makan satu orang miskin sejumlah hari-hari

yang dia tinggalkan)

  1. Orang lanjut usia
  2. Orang sakit permanen yang kecil kemungkinan untuk sembuh

 

C. Kewajibannya adalah qadha’ dan ith’aam sekaligus

  1. Wanita menyusui yang tidak puasa karena khawatir terhadap kondisi bayinya (ket: sda.)
  2. Wanita hamil yang tidak puasa karena khawatir terhadap kondisi janinnya (ket: sda.)

 

D. Kewajibannya adalah tobat dan kaffarah (memerdekakan budak atau puasa dua bulan berturut-turut atau ith’aam 60 orang miskin): jima’

 

E. Tidak berdosa: puasa anak kecil yang mumayyiz tapi belum baligh (dewasa)

 

BEBERAPA KASUS:

Beberapa kasus yang umum terjadi di tengah-tengah masyarakat yang perlu kita pahami. Di antaranya:

  1. Yang afdhal bagi musafir yang tidak menemui kesulitan apapun dalam melaksanakan puasa adalah yang lebih mudah bagi dirinya, antara puasa dan meninggalkannya dengan qadha’
  2. Sopir atau pelaut:
    1. Bagi bujangan atau orang yang membawa serta keluarganya, dia wajib puasa. Karena perjalanannya tidak terputus
  3. Bagi orang yang memiliki keluarga tapi tidak dibawanya serta, dia boleh puasa dan boleh juga tidak dengan qadha’ Obat penunda haidh boleh digunakan, tapi tidak dianjurkan. Hal ini mengingat tidak sepinya obat-obatan kimiawi umumnya dari efek negatif bagi kesehatan
  4. Orang yang bangun subuh dalam keadaan junub, tidak mengapa menunda mandi hingga masuk waktu shalat subuh. Dengan tetap melaksanakan shalat subuh berjamaah di mesjid.
  5. Orang mimpi basah di siang hari tidak batal puasanya
  6. Orang yang udzurnya hilang di tengah hari puasa, melanjutkan puasanya. Contoh: suci dari haidh, masuk Islam, mukim setelah safar, dll.
  7. Qadha’ yang tertunda hingga melewati Ramadhan berikutnya:
    1. Bila dengan udzur, cukup diganti dengan qadha’ saja
    2. Tanpa udzur syar’I, disamping qadha’ juga ith’aam
  8. Satu-satunya puasa yang ahli waris dianjurkan untuk mempuasakan orang yang telah meninggal adalah puasa nadzar
  9. Satu kali niat untuk satu bulan cukup untuk puasa Ramadhan
  10. SALAH PAHAM DALAM RAMADHAN: al-imsak atau berpuasa sebelum masuk waktu shalat subuh
    Wallahu ta’ala a’laa wa a’lam

 

HIKMAH PUASA

Puasa
Puasa

Selain untuk ta’abud dan taqorrub kepada Allah, puasa memiliki hikmah yang berdampak luar biasa untuk umat Islam, antara lain:

  1. Melatih sifat jujur dan amanah, sebab puasa adalah rahasia antara hamba dengan Allah subhanahu wata’ala
  2. Melatih sifat sabar dan pengendalian diri, sebab puasa melemahkan jalan syaitan
  3. Membiasakan zuhud terhadap dunia
  4. Menumbuhkan kasih sayang kepada orang-orang miskin
  5. Memberi manfaat kesehatan

Boleh Copypaste materi dari web ini, tapi jangan lupa cantumkan sumbernya ya. Terimakasih.

 

Tinggalkan komentar