PUASA: Pengertian, Rukun, Syarat, dan Macamnya (Lengkap)

PUASA: Pengertian, Rukun, Syarat, dan Macamnya (Lengkap)

Puasa – Puasa adalah rukun Islam yang ketiga setelah syahadat dan sholat. Puasa adalah ibadah khusus antara hamba dan Rabb-Nya. Puasa adalah ibadah spesial karena ibadah puasa terdapat hampir seluruh agama, baik agama samawi ataupun agama ardhi. Oleh karena itu ibadah puasa ini telah dikenal di kalangan orang-orang agama budaya dulu kala. Hal tesebut tercermin dalam firman Allah SWT.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Islam mengajarkan diri kita untuk saling menghargai dan saling menyayangi, Islam juga mengajarkan diri untuk berbuat kebaikan dan menjahui segala keburukan yang dapat merusak. Puasa merupakan media pembelajaran bagi umat Islam untuk menambah keimanan dan ketaqwaannya.

Banyak orang-orang yang melaksanakan puasa hanya sekedar melaksanakan, tanpa mengetahui syarat sahnya puasa dan hal-hal yang membatalkan puasa. Hasilnya, pada saat mereka berpuasa mereka hanyalah mendapatkan rasa lapar saja. Sangatlah rugi bagi kita jika sudah berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala. Oleh karena itu dalam makalah ini saya akan membahas tentang apa itu puasa, tujuan, hikmah puasa dan lain-lain.

 

1. Definisi Puasa

Arti puasa dalam Bahasa arab adalah menahan diri dari sesuatu. Shaama ani al-kalam artinya menahan diri dari berbicara. Sedangkan arti puasa menurut istilah syariat adalah menahan diri pada siang hari dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, disertai niat oleh pelakunya, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Artinya, puasa adalah penahanan diri dari dari syahwat perut dan syahwat kemaluan, serta dari segala benda konkret yang memasuki rongga dalam tubuh (seperti obat dan sejenisnya), dalam rentang waktu tertentu (yakni sejak terbitnya fajar shadiq kedua hingga terbenamnya matahari) yang dilakukan oleh orang tertentu yang memenuhi syarat (yaitu beragama Islam, berakal, tidak sedang haid dan nifas, niat) yaitu kehendak hati untuk melakukan perbuatan secara pasti tanpa ada kebimbangan, agar ibadah berbeda dari kebiasaan.

 

2. Pensyariatan Puasa dalam Islam

Puasa adalah rukun Islam
Puasa adalah rukun Islam

Puasa itu di Fardlukan pada tahun kedua hari Hijrah. Rasulullah wafat sesudah berpuasa Sembilan hari Ramadhan. Beliau membolehkan bagi orang sakit dan bagi orang yang dalam perjalanan tidak berpuasa dengan wajib mengqadlanya di waktu yang lain dan beliau membolehkan wanita yang sedang mengandung dan yang sedang menyusui anak tidak berpuasa, dengan memberi fidyah.

Di antara petunjuk Rasulullah ialah tidak memasuki puasa Ramadhan melainkan dengan nyata-nyata telah melihat bulan, atau dengan pensaksian seseorang yang adil, apabila tidak terlihat bulan dan tidak ada pensaksian tentang telah ada bulan, beliau menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari. Apabila dua saksi mengakui melihat bulan sesudah keluar waktu hari raya, beliaupun berhari raya dan mengerjakan sembayang hari raya esok harinya. Beliau menyegerakan berbuka dan beliau berbuka itu sebelum bersembayang maghrib dengan beberapa biji kurma basah, kalau tidak ada dengan beberapa biji kurma kering kalau tidak ada dengan beberapa teguk air.

Beliau kadang-kadang berpuasa di dalam safarnya dan terkadang-kadang berbuka. Dan beliau menyuruh para sahabat berbuka apabila mereka telah dekat kepada musuh. Dan beliau tidak menjangkakan Masafah Safar dalam membolehkan berbuka itu. Segala yang tersebut dalam kitab-kitab Fiqh tentang batas Safar yang membolehkan berbuka dan Qashar sembahyang, adalah dari Ijtihad para Fuqaha. Penduduk Mekkah bersembahyang safar, yakni qashar dan jama’ di Arafah beserta Nabi, pada hal jaraknya Arafah dari Makkah, tidak sejarak jangka batas yang diberikan oleh mereka. Para sahabat membuka puasanya dengan memulai Safar, tidak menunggu lewat perkampungan . mereka mengkhabarkan bahwa demikian sunnah Nabi.

Pernah Nabi memasuki waktu shubuh dalam keadaan berjunub. Maka beliaupun mandi dan berpuasa, sebagaimana pernah beliau mencium isterinya dalam keadaan berpuasa

 

3. Dalil Puasa

Berdasarkan dalil al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’, puasa bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun dan fardhu dalam Islam.  Dalil al-Qur’an adalah firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)

Dalil dari sunnah adalah sabda Nabi SAW,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: بُنِيَ الإِسْلامُ عَلى خَمْسٍ: شَهادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقامِ الصَّلاةِ وَإِيتاءَ الزَّكاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ. (رواه البخاري)

Dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima (pondasi), yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (H.R. Al-Bukhari)

 

4. Waktu Puasa

Puasa adalah rukun Islam
Puasa adalah rukun Islam

Waktu puasa adalah sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Di negeri yang sama panjangnya antara malam dan siang atau ketika siang lebih Panjang daripada malam seperti Bulgaria, waktu puasa disesuaikan dengan negara terdekat, atau disesuaikan dengan waktu Mekkah. Sebagaimana Firman Allah swt:

“…dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar…” (QS. Al-Baqarah: 187)

Kata benang dalam ayat ini adalah ungkapan majaz, artinya jelas bagimu terangnya siang dari gelapnya malam, dan ini terwujud dengan terbitnya fajar.

 

5. Syarat-syarat Puasa

Di sini akan dibahas dua topik, yakni syarat wajib dan syarat sah puasa.

  1. Syarat wajib puasa

Para fuqoha’ menetapkan lima syarat untuk wajibnya puasa, yakni: Islam, Baligh, Berakal, Mampu (sehat/tidak sakit), dan mukim. Semua yang terdapat di atas tersebut, merupakan syarat-syarat wajib puasa, bila terdapat pada seseorang muslim syarat-syarat wajib ini, wajiblah ia berpuasa, dan berdosa bila dia meninggalkannya

  1. Syarat sahnya puasa

Menurut pendapat Imam syafi’i yang dikutip oleh Prof. Wahbah Zuhaily, syarat sahnya puasa ada 4, yaitu: Islam, Tamyiz/berakal, bersih dari haid dan nifas, dan pada waktu dibolehkannya puasa.

 

6. Rukun Puasa

Rukun puasa adalah menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan atau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan. Dalam madzhab Maliki dan Syafi’I ditambahkan rukun lain, niat pada malam hari. Dan niat itu sah pada salah satu saat dimalam hari, dan tidak disyariatkan mengucapkannya, karena itu merupakan pekerjaan hati, tak ada sangkut-pautnya dengan lisan. Hakikatnya niat adalah menyengaja suatu perbuatan demi mentaati perintah Allah Ta’ala dalam mengharapkan keridhaaNya

 

7. Hikmah Puasa

Semua yang diperintahkan oleh Islam atau yang dilarangnya pasti mengandung nilai (makna) filosofinya. Hanya saja, orang tidak mampu menangkapnya. Seperti halnya dengan ibadah-ibadah lainya, maka ibadah puasapun tidak luput dari makna filosofi tersebut baik dari aspek jasmani maupun rohani, di antaranya adalah:

  1. Puasa merupakan bentuk ketaatan kepada Allah swt.
  2. Orang yang berpuasa menjauhkan dirinya dari adzab Allah swt, yang akan menimpa akibat maksiat yang kadang dia lakukan.
  3. Puasa merupakan training center terbesar bagi akhlak.
  4. Puasa mengajarkan sifat amanah dan menumbuhkan perasaan diawasi oleh Allah swt dalam keadaan sepi maupun ramai.
  5. Puasa menguatkan kehendak, mengasah tekad, dan memupuk kesabaran.
  6. Puasa mengajarkan keteraturan dan kedisiplinan.
  7. Puasa menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan, solidaritas dan ikatan saling tolong menolong yang menghubungkan kaum muslimin satu sama lainnya.
  8. Puasa memperbaharui kehidupan seseorang dengan memperbarui sel sel tubuhnya membuang sel-sel yang sudah aus, mengistirahatkan lambung dan alat pencernaan, memberi diet bagi tubuh, memusnahkan limbah yang mengendap dan makanan-makanan yang tidak tercerna di dalam tubuh, serta mengusir kebusukan dan kelembaban yang ditinggalkan makanan dan minuman.
  9. Puasa merupakan bentuk jihad melawan hawa nafsu untuk membersihkannya dari kotoran-kotoran dan dosa duniawi, serta menurunkan gelora syahwat dengan cara mengatur makan dan minum

 

8. Hal-hal yang disunnahkan dalam puasa

Puasa adalah rukun Islam
Puasa adalah rukun Islam

Bagi orang yang berpuasa disunnahkan hal-hal berikut:

  • Makan sahur walau sedikit, meski hanya seteguk air, dan disunnhakan menangguhkan sahur ini sampai akhir malam.
  • Menyegerakan buka puasa sebelum shalat maghrib. (Ta’jil)
  • Membaca do’a yang ma’tsur sesudah berbuka, yaitu:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَ بِكَ آمَنْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى يَا وَاسِعَ الْفَضْلِ اغْفِرْلِىيْ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِيْ فَصُمْتُ وَرَزَقَنِيْ فَأَفْطَرْتُ

Allahumma inni laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu wa ‘alaika tawakkaltu wa bika amantu, dzahabaz zdama-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru insya Allah ta’ala. Ya wasi’al fadhli ighfirli, alhamdulillahil ladzi a’anani fashumtu wa rozaqoni fa afthortu.”

Ya Allah, sesungguhnya aku berpuasa karena-Mu dan aku berbuka dengan rezeki-Mu. Kepada-Mu aku bertawakal dan kepada-Mu aku beriman. Dahaga telah lenyap, urat-urat telah basah dan pahala telah pasti didapatkan, insya Allah. Wahai Tuhan yang luas karunia-Nya, ampunilah dosaku. Segala puji bagi Allah yang telah membantuku sehingga aku dapat berpuasa dan memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.

  • Memberi buka kepada orang yang berpuasa
  • Mandi dari junub, hadi dan nifas sebelum terbit fajar agar berada dalam keadaan suci sejak awal puasa
  • Menahan lidah dan anggota tubuh lainnya dari melakukan perbuatan yang sia-sia.
  • Menjauhi benda-benda pemuas kesenangan
  • Disunnahkan tidak melakukan fashdu’/bekam untuk menghindari perbedaan pendapat.
  • Memperbanyak sedekah kepada faqir miskin
  • Mengisi waktu dengan mempelajari ilmu, membaca al-qur’an atau berdzikir
  • I’tikaf

 

9. Hal-hal yang makruh dalam puasa

Dalam puasa, hal berikut makruh hukumnya, yaitu:

  • Puasa wishal, yaikni tidak berbuka dalam dua hari dengan makan dan minum sesuatu.
  • Berciuman dan melakukan pendahuluan hubungan suami istri
  • Menikmati kemewahan perkara-perkara yang mubah.
  • Mencicipi makanan dan mengunyah permen karet.

 

10. Perkara yang Membatalkan Puasa

Perkara-perkara yang membatalkan puasa antara lain:

  • Membatalkan niat untuk berpuasa Apabila seseorang membatalkan niatnya untuk berpuasa, puasanya menjadi batal, karena niat adalah salah satu rukun puasa.
  • Makan dan minum dengan sengaja Seserang yang sengaja merusak puasanya dengan makan atau minum dengan sengaja maka sebagian ulama mewajibkan ia mengqdlakan puasanya.[8]
  • Sengaja memasukan sesuatu benda kedalam rongga terbuka, meskipun benda itu sekecil apa pun. Rongga terbuka seperti mulut, hidung, telinga dan kemaluan
  • Keluar sesuatu dari perut, seperti muntah walapun sedikit dengan cara di sengaja. Tetapi jika tidak disengaja, maka puasanya tidak batal.
  • Bercampur (jima’)
  • Keluar mani, apabila ada unsur kesengajaan. Adapun keluar mani sebab mimpi, maka hukumnya tidak batal.

 

11. Udzur yang membolehkan tidak berpuasa (Rukhsah Puasa)

Boleh tidak berpuasa karena beberapa udzur, di antaranya:

  • Perjalanan yang sangat jauh (hukum sholat qashar)
  • Sakit yang menyulitkannya untuk berpuasa
  • Wanita hamil
  • Ibu menyusui
  • Usia lanjut
  • Rasa lapar dan haus yang sangat luar biasa

 

12. Macam-Macam Puasa

Puasa itu bermacam-macam, ada yang wajib, ada yang sunnah, dan ada yang haram.

  • Puasa Wajib

Puasa wajib adalah puasa yang wajib dikerjakan oleh ummat muslim yang mukallaf. Jika dikerjakan akan mendapatkan pahala di sisi Allah swt, namun jika ditinggalkan aka nada konsekuensi atas perbuatan tersebut. Secara umum, puasa dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Wajib karena datangnya waktu tertentu, misalnya puasa Ramadhan
  2. Wajib karena sebab tertentu (illat), seperti akibat pelanggaran yang sanksinya berupa puasa (kaffarat); misalnya, sanksi membatalkan sumpah adalah puasa tiga hari (QS. Al-Maidah (5): 89)
  3. Wajib karena mewajibkannya atas dirinya sendiri, yaitu puasa nadzar.

 

  • Puasa Sunnah (tathawwu’)

Tathawwu’ artinya mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah yang tidak wajib. Kata ini diambil dari firman-Nya: “wa man tathawwa’a khaoiron (dan barang siapa mengerjakan suatu kebaikan demham kerelaan hati) (QS. Al-Baqarah: 185)

Sedangkan Puasa sunnah/tathawwu’ adalah puasa yang dianjurkan untuk diamlakan oleh ummat muslim yang mukallaf. Jika ditinggalkan aka nada konsekuensi atas perbuatan tersebut.

13. Macam-Macam Puasa sunnah yang disepakati oleh para ulama’ antara lain;

  1. Dianjurkan pada hari-hari tertentu, seperti; puasa Nabi Daud,
  2. Puasa tiga hari tiap pertengahan bulan. Sabda Rasulullah SAW: “barang siapa berpuasa tiga hari dalam sebulan, maka sesungguhnya ia telah berpuasa satu tahun.” (HR. Ahmad dan Tarmidzi)
  3. Puasa senin dan kamis setiap minggunya
  4. Puasa enam hari di bulan syawal. sabda Nabi: ‘barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan enam hari dari buan syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa setahun.” (HR. Jamaah)
  5. Puasa sepuluh hari bulan Dzulhijjah, yaitu dari tanggal 1 sampai tanggal 10 dzulhijjah (hari idul adhah). Akan tetapi pada hari ksepuluh, puasanya  hanya sampai dengan selesai shalat id saja
  6. Puasa Arafah bagi mereka yang tidak sedang berhaji
  7. Puasa tasu’a. atau ‘asyura, yaitu puasa pada tanggal 9 dan 10 muharram
  8. Puasa pada empat bulan suci.
  9. Puasa bulan sya’ban. Kata Aisyah, “saya melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh selan dalam bulan Ramadhan, dan saya tidak melihat beliau dalm bulan-bulan yang lain berpuasa lebih banyak dari bulan sya’ban” (riwayat Bukhari dan Muslim)

 

  • Puasa Yang Diharamkan
  1. Puasa yang diharamkan adalah puasa yang memenuhi unsur berikut:
  2. Puasa sunnah bagi istri tanpa izin suaminya sedang suaminya berada di rumah, kecuali jika si suami tidak membutuhkannya, missal sedang bepergian, sedang haji/umroh, I’tikaf, dll.
  3. Puasa pada hari raya idul fitri, idul adha dan hari-hari tasyrik.
  4. Puasanya wanita yang sedang haid atau nifas
  5. Puasa seseorang yang dikhawatirkan dirinya akan celaka jika dia melakukan puasa tersebut.

 

Demikian artikel tentang puasa. Semoga memberikan tambahan wawasan dan memberikan nilai manfaat yang lebih besar dalam menjalankan ibadah sebagai perintah agama dan kewajiban seorang hamba. Selamat membaca!

 

Boleh Copypaste materi dari web ini, tapi jangan lupa cantumkan sumbernya ya. Terimakasih.

Tinggalkan komentar