Reksadana: Pengertian, Sejarah dan perbedaannya dengan reksadana Syariah (Lengkap)

Reksadana: Pengertian, Sejarah dan perbedaannya dengan reksadana Syariah (Lengkap)

Reksadana – Dalam perkembangan usaha lembaga keuangan syariah yang semakin pesat, banyak usaha yang berlandaskan syariah yang berdiri sekarang ini. Dalam hal investasi salah satunya adalah reksadana syari’ah. Apa pengertian dan bagaimana hokum Rekasadana Syariah akan dibahas lebih dalam materi ini.

a. Pengertian dan Sejarah Reksadana

Kata Rekasadana dalam dunia Perekonomian sudah tidak asing lagi, semua kalangan sudah mengetahui arti dari Rekasadana Itu yang pada pokoknya adalah suatu kumpulan dana dari orang-orang yang dijadiakan satu kemudian dikelola untuk mendapatkan keuntungan dalam penanaman modal itu.

Reksadana (mutual fund) adalah jenis managed investment trust dan tergolong perusahaan investasi openend. Perusahaan ini menawarkan dana pasar uang, dana saham, dana pendapatn tetap, alokasi dana pada aset, dan indeks, dana investasi pada sektor industri khusus.

Reksadana pada umumnya diartikan sebagai wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang kemudian diinvestasikan dalam portofolio efek, yang mana Tujuan suatu perusahaan membuat surat berharga adalah untuk berjaga-jaga. Reksadana merupakan investasi campuran yang menggabungkan saham dam obligasi dalam satu produk.

Sedang pengertian Reksadana menurut Slamet Sugiti adalah bisa dilihat dari menurut bahasa yang artinya kumpulan uang yang dipelihara. Sedangkan menurut istilah Reksadana berarti sebuah wadah dimana masyarakat dapat menginvestasikan dananya dan oleh pengurusnya, dana itu di investasikan ke portofolio efek. Portofolio efek adalah kumpulan (kombinasi) sekuritas, surat berharga. surat berharga juga disebut sekuritas atau efek yang merupakan surat berharga yang dapat diperjual belikan.

Adapun pengertian lain, Reksadana adalah sertifikat yang menjelaskan bahwa pemiliknya atau investor menyerahkan sejumlah dana tertentu untuk digunakan sebagai modal berinvestasi. Dalam prakteknya, istilah reksadana dikenal sebagai gabungan dana dari berbagai pihak yang digunakan bersama-sama untuk melakukan investasi. Masing-masing peserta reksadana tidak mengenal satu sama lain, namun memiliki tujuan sama yaitu mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari investasi secara bersama tersebut.

Reksadana juga merupakan suatu instrumen keuangan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal secara kolektif. Dana yang terkumpul ini, selanjutnya dikelola dan diinvestasikan oleh seorang manajer investasi (fund manager) melalui saham, obligasi, valuta asing atau deposito.

Dalam perkembangannya setelah dana itu terkumpul maka manajer investasi akan mengelolanya dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah Surat berharga.Walaupun surat berharga itu mengandung keuntungan namun disamping keuntungan, surat berharga itu mempunyai risiko dalam kepemilikan, yang bila ditelaah risiko yang diungkapkan oleh Kamarudin Ahmad adalah risiko yang ada didalam atau diluar lembaga Reksadana,bail itu didalam lembaga itu sendiri atau di pasar modalnya.

Kamarudin Ahmad mengungkapkan resiko dari Reksadana adalah sebagai berikut:

  1. Risiko keuangan;
  2. Risiko tingkat bunga;
  3. Risiko daya beli;
  4. Likuiditas atau risiko pasar;
  5. Risiko penganaan pajak; dan
  6. Risiko biaya.

Reksadana merupakan jalan keluar bagi para pemodal kecil yang ingin ikut serta dalam pasar modal dengan modal minimal yang relative kecil dan kemampuan menanggung risiko yang sedikit.

Untuk pengertian dari Rekasadana syari’ah yaitu Rekasadana yang dijalankan berdasarkan syari’ah yang pada prinsipnya tidak bertentangan dengan syariat, misalnya tidak diinvestasikan pada saham-saham atau obligasi dari perusahaan yang pengelolaan atau produknya bertentangan dengan syariat Islam. Seperti pabrik makanan/minuman yang mengandung alkohol, daging babi, rokok dan tembakau, jasa keuangan konvensional, pertahanan dan persenjataan serta bisnis hiburan yang berbau maksiat, karena menggunakan prinsip bagi hasil, Para pemodal masing-masing patungan dengan menyetorkan dana dan hasil investasinya juga dibagi kepada para pemodal sesuai dengan proporsi modal yang disetorkannya. Jika Rekasadana syariah membeli saham, maka saham yang dibeli harus perusahaan yang sudah dinyatakan sesuai syariat yang masuk ke dalam JII (Jakarta Islamic Index). Obligasi yang boleh dibeli pun hanya obligasi syariah saja. Begitu juga dengan deposito, hanya yang diterbitkan oleh bank syariah.

Menurut fatwa No.20/DSN-MUI/IV/2001, yang dimaksud Reksadana Syari’ah adalah Reksadana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip-prinsip syariat Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (s}a>h}ib al-ma>l/rabb al-ma>l) dengan manajer investasi sebagai wakil s}a>h}ib al-ma>l, maupun antara manajer investasi sebagai s}a>h}ib al-ma>l dengan pengguna investasi.

Dalam literatur lain disebutkan Reksadana Syariah adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal sebagai pemilik harta (s}a>h}ib al-ma>l/rabb al-ma>l) untuk selanjutnya diinvestasikan dalam Portofolio Efek oleh Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal menurut ketentuan dan prinsip Syariah Islam.

Rekasadana syariah juga harus mempertimbangkan kehalalan suatu produk keuangan selain tingkat keuntungannya untuk mengatur portofolio investasinya. Upaya pemilihan portofolio efek merupakan upaya minimalisasi risiko dimana deversifikasi adalah solusinya. Deversifikasi adalah proses kontruksi portofolio dengan melibatkan beberapa instrumen investasi yang berbeda-beda. Cara diversifikasi lintas instrumen dapat dilakukan dengan membeli beberapa jenis instrumen investasi yang berbeda-beda. Misalnya dana diinvestasikan di saham, sebagian dioblogasi, dan sebagian yang lain di bank. Dan Rekasadana hanya diperbolehkan sebagai jenis investasi untuk efek (surat berharga), tidak investasi langsung ke sektor riil (usaha). Jadi, investasi reksadana hanya diperkenankan pada produk keuangan seperti saham, obligasi, deposito, valuta asing, dan lain sebagainya.

Dari beberapa definisi yang dipaparkan di atas dapat disimpulkan reksadan syariah adalah Rekasadana yang dijalankan berdasarkan syari’ah yang pada prinsipnya tidak bertentangan dengan syariat.

 

b. Sejarah Reksadana syariah;

ReksadanaParahita dalam blognya mengungkap Mulai terjadinya Rekasadana Ini dimulai saat ada pedagang belanda membuat persatuan kekuatan, karena menarik maka tindakanya itu diikuti oleh rajanya. Sampai akhirnya Reksadana Sampai ke berbagai Negara, seperti inggris, swis,  dan skotlandia. Dan pada akhirnya dampai ke Indonesia. Karena Indonesia mayoritas Islam maka dibentukalah Rekasadana yang berbasis Islam sehingga dibentuklah Danareksa syariah atau yang sekarang disebut Rekasadana Syariah.

Untuk lebih terincinya perjalanan Rekasadana Menurut Parahita adalah dimulai saat ada seorang pedagang dari Belanda bernama Adriaan van Ketwich pada tahun 1744 membuat sebuah rekasadana. Rekasadana ini diberi nama Eendragt Maakt Magt yang berarti ”persatuan menciptakan kekuatan”. Karena langkah van Ketwich ini  menarik maka kemudian diikuti oleh raja Belanda pada saat itu, yang pada saat itu diduduki oleh William I, beliau mendirikan sebuah perusahaan investasi pada tahun 1822. Sejak saat itu, Rekasadana lainnya mulai bermunculan, antara lain di Swiss tahun 1849 dan instrumen serupa yang muncul di Skotlandia pada tahun 1880. Satu hal yang perlu dicatat, pada masa-masa tersebut Rekasadana yang ada bersifat closed-end. Yang berarti, penerbit Rekasadana tidak memiliki kewajiban untuk membeli kembali Rekasadana yang telah dijualnya. Pembeli Rekasadana hanya dapat menjual Rekasadana yang dimilikinya kepada investor lain. Selanjutnya, ide mengenai Rekasadana ini mulai mengakar di Inggris dan Perancis dengan adanya Joint Stock Companies Act pada tahun 1862 dan 1867 yang mengijinkan investor untuk mendapatkan bagian keuntungan perusahan investasi dan risiko investasinya hanya sebatas dana yang diinvestasikan. Kemudian Rekasadana dibawa ke Amerika Serikat pada tahun 1890. Rekasadana pertama yang diterbitkan di Amerika Serikat adalah “The Boston Personal Property Trust” pada tahun 1893. Langkah penting yang menjadi tiang munculnya Rekasadana modern adalah diterbitkannya Alexander Fund di Philadelphia pada tahun 1907. Rekasadana ini disebut sebagai peletak dasar rekasadana modern karena Rekasadana ini dijual secara berkala dalam periode enam bulanan dan hal terpenting lainnya, investor dapat menjual kembali Rekasadananya kepada penerbit. Padahal sebelumnya, investor hanya dapat menjual Rekasadananya kepada investor lain.

Di Indonesia, Rekasadana pertama kali muncul saat pemerintah mendirikan PT. Danareksa pada tahun 1976. Pada waktu itu PT. Danareksa menerbitkan Rekasadana yang disebut dengan Sertifikat Danareksa. Kemudian Pada tahun 1995, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang pasar modal yang mencakup pula peraturan Rekasadana melalui UU No. 8 tahun 1995 mengenai Pasar Modal. Adanya UU tersebut menjadi momentum munculnya rekasadana di Indonesia yang diawali dengan diterbitkannya Rekasadana tertutup oleh PT. BDNI Reksadana. Perkembangan Rekasadana Itu Merupkan Reksadana Dalam Cakupan Rekasadana konvensional, namun dengan hadirnya Bank Muamalat, Asuransi Takaful, dan tumbuhnya lembaga Keuangan Syariah menimbulkan sikap optimistis meningkatnya semangat investasi yang berbasis pada investor muslim.

Sejalan dengan perkembangan itu, sebagaian masyarakat muslim Indonesia memandang bahwa di dalam mekanisme reksadana masih ditemukan unsur-unsur yang bertentangan dengan syariat Islam, terutama unsur riba dan gharar. Untuk mengantisipasi unsur-unsur tersebut dengan tetap umat Islam bisa menginventasikan dana melalui reksadana yang mengacu pada prinsip-prinsip syariah,  Bapepam mulai melakukan inisiatif untuk mewadahi investor muslim, maka mulai tahun 1997 dihadirkan reksadana syariah dengan produknya yang bernama danareksa syariah. Kemudian pada tahun 2000 dihadirkan kembali produk baru dengan nama danareksa syariah berimbang.

 

c. Prinsip Reksadana Syariah

ReksadanaPrinsip Dasar Reksadana syari’ah, antara lain:

  1. Bukan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Reksadana syariah tujuan investasinya tidak semata-mata sekedar return yang tinggi. Manajer investasi suatu dana syariah tidak hanya melakukan maksimalisasi kesejahteraan pemilik modal, tapi juga memastikan bahwa portofolio yang dimiliki tetap berada dalam dominan investasi yang diinginkan klien (investor).
  2. Adanya proses screening (penyaringan). Dalam proses manajemen portofolio, reksadana syariah harus lebih dulu melalui proses screening sebagai bagian dari proses alokasi asset. Reksadana syariah hanya dibolehkan melakukan penempatan pada saham-saham dan instrumen-instrumen lain yang dinyatakan halal oleh Dewan Pengawas Syari’ah dan dengan berdasarkan Jakarta Islamic Indeks. Hal ini akan berdampak pada aliokasi dan komposisi asset dalam portofolionya.
  3. Adanya proses cleaning (purrification). Proses ini dimaksudkan untuk membersihkan aset aset yang tidak halal, baik dengan mengeluarkan zakat atau pengeluaran amal lainnya.
  4. Proses Valuation Dalam operasional manajemen portofolio, yang harus diperhatikan adalah proses valuation saham. Kegunaan konvensional membolehkan adanya risk of free interest yang tentunya tidak bisa dibenarkan secara syariah.
  5. Pengawasan yang lebih selektif, selain dari Bapepam sebagai pengawas pasar modal syariah dalam seluruh kegiatan operasionalnya agar tetap berada dalam ketentuan syariah yang berlaku.
  6. Adanya Jakarta Islamik Indeks (JII) berguna sebagai tolak ukur bagi investasi berdasarkan syariah di pasar modal selain dari indeks-indeks yang lain yang ada di Bursa Efek Jakarta.
  7. Investasi pada perusahaan produk halal dalam penempatan dananya reksadana syariah tidak boleh menempatkan dananya pada emitmen yang menjalankan usahanya pada hal-hal yang melanggar syariah seperti alkohol, makanan haram dan sebagainya.

 

Prinsip-prinnsip yang berlaku dalam Rekasadana syari’ah adalah:

  1. Semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkanya.
  2. Asas kebebasan membuat kontrak berdasarkan kesepakatan dan kewajiban memenuhi akad
  3. Pelaksanaan transaksi harus dilakukan menurut rinsip kehati-hatian serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi yang didalamnya mengandung unsur riba, gharar, maysir, dan zhulm
  4. Menjunjung Etika (Akhlak) dalam bertransaksi
  5. Melakukan pencatatan (dokumentasi) atau penulisan
  6. Jenis kegiatan usaha yang bertentangan dengan syariah Islam, antara lain:
  7. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang;
  8. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional;
  9. Usaha-usaha yang memproduksi, mendistribusi, serta memperdagangkan makanan dan minuman yang haram;
  10. Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak modal dan bersifat mudharat.

Adapun jenis transaksi yang dilarang antara lain:

  1. Najasy, yaitu melakukan penawaran palsu;
  2. Bai’ al-ma’dun, yaitu melakukan penjualan atas barang yang belum dimiliki;
  3. Insider trading yaitu menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam memperoleh keuntungan transaksi yang dilarang;
  4. Melakukan investasi pada perusahaan yang pada saat transaksi tingkat suku bunganya lebih dominan dari modalnya.

Pokok-pokok aturan investasi Reksadana Syariah mencakup:

  1. Investasi hanya pada efek-efek dari perusahaan yang kegiatan usaha utamanya dan hasil usaha utamanya sesuai engan pedoman syariah Islam.
  2. Tidak memproduksi atau menjual makanan dan minuman yang haram dan subhat;
  3. Tidak memproduksi makanan dan minuman yang memabukkan;
  4. Tidak menyelenggarakan perjudian;
  5. Tidak melakukan kegiatan yang melanggar tata susila manusia;
  6. Tidak memberikan jasa keuangan yang mempraktikkan riba;
  7. Tidak memproduksi alat-alat senjata dan pemusnah manusia.
  8. Perusahaan yang kegiatan dan hasil usaha utamanya sesuai syariah Islam, namun memiliki anak perusahaan yang kegiatan dan hasil usaha utamanya tidak sesuai dengan syariah Islam dikategorikan sebagai tidak sesuai dengan syariat Islam.
  9. Perusahaan yang kegiatan dan hasil usaha utamanya sesuai dengan syariah Islam, namun mayoritas sahamnya dimiliki oleh suatu perusahaan yang kegiatan dan hasil usaha utamanya tidak sesuai dengan syariah Islam dikategorikan sebagai sesuai dengan syariat Islam
  10. Penempatan jangka pendek pada giro konvensional yang tidak dapat dihindarkan akan dibersihkan melalui proses cleansing. Penggunaan dan cleansing antara lain santunan anak yatim dan fakir miskin, pembangunan sasaran umum dan untuk membantu musibah kenamusiaan.

 

d. Aplikasi Reksadana Syariah dan Jenis Produk Reksadana Syariah

  1. Aplikasi Reksadana Syariah

Penerapan dalam Reksadana Syariah penerbitan Sahamnya harus memenuhi kewajiban yang telah ditentukan. Menurut Andri Samudra Lebih rincinya yaitu seorang emiten wajib:

  1. Mematuhi ketentuan umum pengajuan penyertaan pendaftaran, Peraturan penyertaan ini dalam penawaran umum Reksadana dalam bentuk perseroan serta ketentuan tentang penawaran umum yang berkaitan;
  2. Mencantumkan ketentuan dalam kontrak pengelolaan atau pengelolaan kontrak penyimpanan Reksadana serta informasi tambahan dalam prospectus, yaitu:
  3. Dalam anggaran dasar emiten memuat ketentuan bahwa kegiatan dan cara pengelolaan usaha dilakukan dengan prinsip syariah pada pasar modal;
  4. Kebijakan investasi Reksadana tidak bertentangan dengan prinsip syariah pada pasar modal;
  5. Jenis usaha, jasa yang diberikan, asset yang dikelola, akad dan cara pengelolaannya tidak bertentangan prinsip syariah pada pasar modal;
  6. Mempunyai anggota direksi, wakil manajer investasi, dan penanggungjawab atas kegiatan kostudian yang memahami kegiatan yang bertentangan dengan prinsip syariah pada pasar modal sehingga mereka dapat menentukan secara pasti apa yang hendak mereka lakukan;
  7. Mekanisme pembersihan kekayaan emiten dari unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip syariah pada pasar modal;
  8. Dana kelolaan hanya dapat di investasikan pada efek syariah yang ditentukan oleh Bapepam dan LK atau pihak lain yang diakui oleh Bapepam Dan LK.

Dalam penerbitan Reksadana Yang Berbentuk KIK, pihak yang melakukan penawaran umum unit penyertaan Reksadana Syariah mempunyai beberapa kewajiban, yaitu:

  1. Mengikuti ketentuan umum pengajuan pernyataan pendaftaran,peraturan pernyataan pendaftaran dalam penawaran Reksadana Berbentuk KIK serta ketentuan lainnya;
  2. Mencantumkan ketentuan KIK dan informasi tambahan dalam prospectus, yaitu:
  3. Kebijakan investasi tidak bertentang dengan prinsip syariah pada pasar modal;
  4. Wakil manajer investasi dan penanggung jawab atas kuntodian mengerti kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan prinsip syariah pada pasar modal;
  5. Tambahan kata “syariah” pada nama Reksadana yang diterbitkan;
  6. Mekanisme pembersihan kekayaan Reksadana dari unsur-unsur yang bertentang dengan prinsip syariah pada pasar modal;
  7. Dana pengelolaan hanya dapat di investasikan pada efek yang telah ditentukan oleh Bapepam dan LK atau pihak lain yang Diakui.

Direksi,manajer investasi dan Bank custodian wajib melaksanakan ketentuan yang telah diatur dalam kontrak pengelolaan, kontrak penyimpanan, atau KIK. Bank Kustodian wajib menolak instrupsi manajer investasi apabila pelaksanaan instrupsi itu mengakibatkan portofolio Reksadana terdapat efek selain yang telah ditentukan oleh Bapepam Dan Lk. Nmun bila ada efek yang tidak ditentukan oleh Bapepam dan Lk tapi bukan dari tindakan Manajer investasi maka mempunyai ketentuan, yaitu:

  1. Manajer investasi menjual efek paling lambat akhir hari kerja ke dua, dengan ketentuan selisih harga jual dari nilai pasar wajar efek pada saat efek masih tercantum dalam daftas efek syariah dipisahkan dari perhitungan NAB dan diperlakukan sebagai dana social;
  2. Manajer investasi mengumumkan perihal tersebut kepada bapepam dan Lk Serta pemegang efek Reksadana palinh lambat pada hari ke dua belas setiap bulan jika ada hal semacam ini.

Bila kesalahan itu terjadi karena kesalahan manajer investasi, maka Bapepam dan LK dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Melarang manajer investasi dan Bank Kustodian melakukan penjualan unit penyertaan baru;
  2. Melarang manajer investasi dan Bank custodian mengalihkan kekayaan Reksadana selain dalam rangka pembersihan kekayaan yang bertentangan dengan prinsip syariah pada pasar modal;
  3. Mewajibkan manajer investasi dan bank Kustodian secara tanggung renteng untuk membeli portofolio yang bertentangan dengan prinsip syariah dipasar modal sesuai dengan harga perolehan dalam waktu yang ditetapkan oleh Bapepam dan LK;
  4. Atau mewajibkan manajer investasi untuk mengumumkan kepada public larangan dan kewajiban yang ditetapkan oleh Bapepam dan LK, paling lambat hari kerja ke dua setelah diterimanya surat Bapepam dan LK, dalam dua surat kabar barbahasa Indonesia dan Berperedaran Nasional dengan biaya manajer investasi dan Bank Kustodian.

Selain dari hal diatas, maka dalam penerapan Reksadana Syariah dalam pengelolaannya diatur ketat oleh Bapepam karena menyangkut dana masyarakat investor, sehingga Bapepam mengeluarkan pedoman pengelolaan Reksa Dan termasuk pelarangan dan pembatasan yang dapat atau tidak dapat dilakukan oleh manajer investasi. Pembatasan dan pelanggaran Reksadana antara lain:

  1. Menerima dan atau memberikan pinjaman secara langsung;
  2. Membeli saham atau unit penyertaan Reksadana lainnya;
  3. Membeli efek luar negeri;
  4. Membeli efek yang diterbitkan oleh suatu emiten melebihi 5% dari jumlah modal yang disetor emiten;
  5. Membeli efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan melebihi 10% dari nilai NAB Reksadana pada saat pembelian, termasuk surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank, tetapi tidak termasuk Sertifikat bank Indonesia Syariah.

 

e. Jenis-Jenis Reksadana Syariah dan Produknya

ReksadanaBeberapa jenis reksadana yang berdasarkan portofolio dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Reksadana pasar uang (money market fund). Reksadanan ini hanya melakukan investasi pada efek bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun. Tujuan reksadana ini adalah untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal.
  2. Reksadana Pendapatan Teap (Fixed Income Fund). Reksadana jenis ini melakukan investasi sekurang-kurangnya 80 % dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat utang. Reksadana ini memiliki risiko yang relatif lebih besar dari reksadana pasar uang. Tujuannya adalah untuk menghilangkan tingkat pengembalian yang stabil.
  3. Reksadana Saham (Equity Fund). Reksadana yang melakukan investasi yang melakukan investasi sekurang-kurangnya dari 80% dari aktivanya dalam bentuk efek yang bersifat ekuitas. Karena investasinya dilakukan pada saham maka resikonya lebih tinggi dan dua jenis reksadana sebelumnya, namun menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi.
  4. Reksadana Campuran (Disrectionary Fund). Reksadana jenis ini melakukan unvestasi dalam efek bersifat ekuitas dan efek bersifat utang.

Adapun produknya ada dua:

  1. Danareksa Syariah.;
  2. Danareksa Syariah Berimbang;

 

Saat ini, untuk pasar Indonesia ada tiga produk reksadana syariah yang ditawarkan, yaitu Danareksa Syariah (reksadana saham/equity fund), Danareksa Syariah Berimbang (reksadana campuran/balanced fund) dan PNM Syariah (reksadana campuran).

Danareksa Syariah dan Danareksa Syariah Berimbang dikelola oleh PT Danareksa Investment Management. Danareksa Syariah bertujuan untuk memberi kesempatan investasi yang maksimal dalam jangka panjang kepada investor yang hendak mengikuti syariah Islam.

Dana yang terkumpul akan diinvestasikan dalam portofolio sekuritas dengan komposisi investasi minimum 80 persen di saham dan maksimum 20 persen di obligasi atau maksimum 20 persen di instrumen pasar uang. Pada Danareksa Syariah Berimbang, dana yang terkumpul akan diinvestasikan minimum 25 persen hingga maksimum 75 persen dalam saham atau minimum 25 persen hingga maksimum 75 persen dalam obligasi dan sisanya pada instrumen pasar uang dengan mengikuti syariah Islam.

 

f. Perusahaan yang Mengelola Reksadana Syariah

1. BNI Reksadana Syariah ( BNI SECURITIES)

Adapun Jenis Reksadana Syariah yang terdapat dalam BNI Reksadana Syariah (PT. BNI SECURITIES) ini adalah:

2. BNI DANA SYARIAH

  • Total unit penyertaan sebesar Rp.500 juta
  • Dana awal penerbitan sebesar Rp.12,5 milyar
  • Komposisi portofolio min.80% sd.max.98% di efek pendapatan tetap. Obligasi Syariah SWBI, CD Mudharabah Muqayaddah, CD Mudharabah Mutlaqah, Sertifikat Investasi Mudharabah antar bank serta efek-efek lain yang bersifat syariah.
  • Minimum pembelian setiap kali Rp. 1 juta atau maksimum 2% dari total unit yang dijual.
  • Pembelian reksadana dapat dilakukan di outlet BNI Securities dan BNI Syariah
  • Biaya pembelian sebesar 0,75% dan biaya penjualan kembali 0%.
  • Pengalihan ke reksadana non syariah tidak dikenakan biaya
  • Fasilitas bebas pajak atas return yang diterima dari investor
  • Imbalan jasa MI pertahun max.1% berdasarkan NAB dihitung secara harian dan dibayar setiap bulan
  • Imbalan jasa kustodian pertahun max.0,25% dari NAB harian dan dibayar setiap bulan.
  • Pembayaran penjualan kembali selambat-lambatnya 7 hari kerja (t+7).

Tujuan Investasi BNI Dana Syariah adalah memberikan tingkat pertumbuhan yang stabil dalam jangka panjang kepada para pemodal yang berpegang kepada Syariah Islam dengan hasil investasi yang bersih dari unsur riba’ dan gharar.

3. BNI DANAPLUS SYARIAH

  • Total unit penyertaan sebesar Rp.500 juta;
  • Dana awal penerbitan sebesar Rp.12,5 milyar;
  • Komposisi portofolio min.48% sd. 98% di efek pendapatan tetap Obligasi Syariah, SWBI,CD Mudharabah Muqayaddah, CD Mudharabah Mutlaqah, Sertifikat Investasi Mudharabah antar bank serta efek-efek lain yang bersifat syariah dan max.50% pada efek yang bersifat ekuitas saham prinsip syariah (jii);
  • Minimum pembelian setiap kali Rp. 1 juta atau maksimum 2% dari total unit yang dijual;
  • Pembelian reksadana dapat dilakukan dioutlet bni securities dan bni syariah;
  • Biaya pembelian sebesar 0,75% dan biaya penjualan kembali 0%;
  • Pengalihan ke reksadana non syariah tidakdikenakan biaya;
  • Fasilitas bebas pajak atas return yang diterima dari investor;
  • Imbalan jasa MI pertahun max.1% berdasarkan NAB dihitung secara harian dan dibayar setiap bulan;
  • Imbalan jasa kustodian pertahun max.0,25% dari NAB harian dan dibayar setiap bulan;
  • Pembayaran penjualan kembali selambat-lambatnya 7 hari kerja (t+7).

Tujuan Investasi BNI DanaPlus Syariah adalah memberikan tingkat pertumbuhan nilai investasi yang lebih baik dan optimal dalam jangka panjang kepada para pemodal yang berpegang kepada Syariah Islam dengan hasil investasi yang bersih dari unsur riba’ dan gharar.

 

Tata cara Pembukaan Rekening dan Pembayaran

Setiap pemodal yang ingin membeli Unit penyertaan BNI Dana Syariah dan/atau BNI DanaPlus Syariah terlebih dahulu diharuskan untuk mengisi Formulir pembukaan Rekening dengan melampirkan fotocopi identitas diri (KTP/SIM/Paspor – untuk Pemegang Unit Penyertaan perorangan ) dan fotocopi akte pendirian perusahaan, NPWP, daftar anggota direksi dan komisaris serta surat kuasa dari direksi kepada pejabat yang ditunjuk untuk melakukan transaksi dengan disertai fotokopi KTP atau Paspor dari yang memberi memberi dan diberi kuasa. Formulir Pembukaan Rekening dapat diperoleh di Kantor Manajer Investasi (PT. BNI SECURITIES) dan outlet-outletnya serta di kantor-kantor cabang  BNI Syariah.

Pembayaran pembelian Unit Penyertaan BNI Dana Syariah dan / atau BNI DanaPlus Syariah dapat dilakukan secara tunai, cek atau giro dalam mata uang rupiah yang ditujukan ke rekening sebagai berikut:

4. BNI Dana Syariah

Nama Rekening : BNI Dana Syariah

Nomor Rekening : 064-01-62922-00-3

Nama Bank : PT. Bank Niaga, Tbk, Cabang Sudirman

5. BNI DanaPlus Syariah

Nama Rekening : BNI DanaPlus Syariah

Nomor Rekening : 064-01-62924-00-5

Nama Bank : PT. Bank Niaga, Tbk, Cabang Sudirman

6. Reksadana Syariah Mandiri

Bank Syariah Mandiri telah terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) berdasarkan Surat Tanda Terdaftar Nomor: 25/BL/STTD/APERD/2007 dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan tanggal 24 April 2007.

7. Produk Reksa Dana yang Dipasarkan Melalui Bank Syariah Mandiri

Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal unutk selanjutnya diinvestasikan dalam Portofolio Efek oleh Manajer Investasi. Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Reksa Dana dapat berbentuk Perseroan Tertutup atau Terbuka dan Kontrak Investasi Kolektif. Bentuk hukum Reksa Dana yang dipasarkan melalui Bank Syariah Mandiri adalah Kontrak Investasi Kolektif. Adapun produk Reksa Dana yang ditawarkan melalui Bank Syariah Mandiri adalah Reksa Dana Mandiri Investa Syariah Berimbang (MISB)Produk Reksa Dana Syariah yang dikeluarkan oleh PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), jenis Reksa Dana Campuran (balanced fund) yaitu wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor) untuk selanjutnya diinvestasikan oleh Manajer Investasi dalam portofolio Efek Saham Syariah, Efek Pasar Uang Syariah dan Obligasi Syariah.

Manfaat:

  1. Memberikan alternatif investasi bagi nasabah
  2. Memberikan tingkat pertumbuhan investasi jangka menengah yang menarik melalui investasi pada Efek Saham Syariah, Efek Pasar Uang Syariah dan Obligasi Syariah.
  3. Mekanisme Transaksi
  4. Investor mendatangiKantor Cabang BSM terdaftar atau yang memiliki WAPERD untuk melaksanakan transaksi pembelian Reksa Dana MISB dengan mengisi formulir aplikasi pembukaan rekening (jika belum memiliki rekening di BSM), formulir aplikasi pembukaan rekening Reksa Dana (jika baru pertama kali membuka rekening Reksa Dana MISB) dan formulir aplikasi pembelian Reksa Dana serta Kuesioner Profil Risiko
  5. Bank memproses permohonan dan mengirimkan laporan pembelian Reksa Dana MISB kepada Manajer Investasi
  6. Manajer Investasi meneruskan laporan pembelian total MISB ke Bank Kustodian.
  7. Permodalan Nasional Madani (PNM) Investment Management.

Reksadana PNM Syariah dikelola oleh Tujuan Investasinya adalah untuk memperoleh pertumbuhan nilai investasi yang optimal dalam jangka panjang. Dana yang terkumpul akan diinvestasikan 30 persen sampai 70 persen pada saham atau 30 persen hingga 70 persen pada obligasi dan sisannya pada instrumen pasar uang. Informasi lengkap mengenai ketiga merek reksadana tersebut bisa dipelajari lebih rinci pada prospektusnya. Selanjutnya, untuk menilai kinerja dari reksadana syariah ini, selain bisa berpatokan pada Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit, juga ddiperlukan suatu acuan, seperti layaknya reksadana saham konvensional mengacu kepada kinerja Indeks Harga saham Gabungan (IHSG).

Acuan yang diperlukan reksadana ini, sudah tentu haruslah juga berprinsip Islam. Kira-kira setahun yang lalu, di Bursa Efek Jakarta sudah diluncurkan indeks harga saham yang disebut indeks syariah atau sering disebut dengan Jakarta Islamic Index (JII). Saham- saham yang masuk ke dalam JII adalah saham-saham yang dikategorikan halal. Salah satu tujuan peluncuran indeks syariah ini, tak lain adalah untuk memudahkan dan menarik minat investor muslim untuk berinvestasi pada saham-saham yang dikategorikan halal. Pro-kontra yang mencuat kepermukaan adalah, apakah saham-saham yang masuk ke JII ini sudah 100 persen halal atau tidak.

Harus diakui, tidaklah gampang untuk menemukan saham-saham yang 100 persen halal di zaman keterbukaan seperti sekarang ini, karena sektor usaha akan saling berinteraksi. Hal inilah yang selanjutnya membedakan reksadana syariah dan reksadana konvensional, karena adanya proses pembersihan (cleansing) atas keuntungan yang tidak halal dalam bentuk zakat atau sedekah kepada pihak yang layak menerimanya.

Jadi, reksadana syariah memang dibuat sedemikian rupa bagi investor, agar dapat berinvestasi dengan tenang dan mendapatkan hasil investasi yang halal. Karena itu, jika tujuan investasi Anda dalam jangka panjang adalah untuk persiapan menunaikan ibadah haji atau biaya anak sekolah diperguruan tinggi, salah satu alternatifnya adalah berinvestasi secara halal via reksadana syariah.

 

g. Mekanisme Operasional Reksadana Syariah

ReksadanaProses Reksadana Syariah Berbeda Denga Konvensional, dalam Reksadana Syariah mekanisme operasionalnya lebih terperinci dan mengandung kejelasan dan keadilan. Mekanisme ini menggunakan akad-akad yang menguntungkan diantara investor dan pengelolanya.  Akad atau system yang digunakan ini menurut Al-Qardh lebih rincinya adalah sebagai berikut:

Mekanisme operasional dalam Reksadana Syari’ah terdiri atas:

  1. antara pemodal dengan Manajer Investasi dilakukan dengan sistem wakalah, dan
  2. antara Manajer Investasi dan pengguna investasi dilakukan dengan sistem mudharabah”.

Sistem mud}arabah ini diartikan sebagai sebuah ikatan atau sistem dimana seseorang memberikan hartanya kepada orang lain untuk dikelola dengan ketentuan bahwa keuntungan yang diperoleh dari hasil pengelolaan tersebut dibagi antara kedua belah pihak sesuai dengan syarat-syarat yang disepakati oleh kedua belah pihak. Prinsip mudharabah di reksadana ini memiliki beberapa kareteristik, yaitu:

  1. Pemodal sebagai rabb al-ma>l ikut menanggung resiko kerigian yang dialami manager investasi sebagai ‘a>mil;
  2. Manager investasi sebagai ‘a>mil tidak menanggung resiko kerugian atas investasi atau kerugian tersebut bukan disebabkan kearena kalalaiannya;
  3. Keuntungan dibagi antara pemodal dengan manager investasi sesuai dengan proporsi yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
  4. Kemudian dalam mekanisme kerjanya dalam Reksadana Syariah Juga Ditentukan Dan di bedakan antara Perseroan Terbatas Dan Kontrak Investasi Kolektif, yaitu bila Perseroan Terbatas didirikan langsung oleh seseorang dan investor bisa langsung kesana untuk menginvestasikan dananya yang disana sudah tersedia manajer investasi, sedangkan dalam Kontrak Investasi Kolektif antara Investor atau penyetor dana harus melakukan kontrak dengan manajer investasi. Menurut Adri Suemitra dalam mekanisme ini dapat dirinci sebagai berikut:

mekanisme kegiatan Reksadana dalam bentuk Perseroan terbatas melibatkan Promotor, pemegang saham, underwriter (jika ada), direksi, Bank Kustodian, Manajer investasi, dan pasar modal dan atau pasar uang, dan dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Pada permulaannya Promotor mendirikan Sebuah Lembaga Reksadana dalam bentuk PT Dengan initial Fund minimal 1%;
  2. Setelah Reksadana berdiri,maka Pemegang saham akan Menginvestasikan assetnya pada Lembaga tersebut dengan penawaran umum;
  3. Asset yang telah terkumpul selanjutnya di simpan pada Bank Kustodian bila ada Underwriter maka akan menyetorkan secara tunai;
  4. Reksadana mengangkat direksi untuk mengawasi manajer investasi yang akan mengelola dan atau kontrak asset yang ada dalam Reksadana, dan mengawasi penginvestasian asset itu pada pasar modal atau pasar uang;
  5. Pasar modal dan atau pasar uang itu akan melakukan intruksi ke Bank Kustodian.

Mekanisme kegiatan Reksadana dalam bentuk Kontrak Investasi Kolektif melibatkan Manajer Investasi, investor, Bapepam dan Lk, Bank Kustodian, Perantara Pedagang Efek, dan pasar modal dan atau pasar uang, dan dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Karena Reksadana KIK Ini berdasarkan Kontrak maka mekanisme kerja Reksadana ini dimulai Dari investor yang menginvestasikan asetnya (permintaan redempion) pada Manajer investasi, setelah mendapatkan kontrak maka manajer investasi mengajukan pernyataan pendaftaran ke Bapepam dan LK;
  2. Karena Manajer investasi sudah terdaftar maka Bapepam dan LK mempunyai kewajiban untuk mengawasi kinerja Manajer investasi, Perantara pedagang efek, Bank Kustodian dan Pasar modal dan atau pasar uang;
  3. Setelah mendaftar maka asset dari investor tersebut di simpan Pada Bank Kustodian dengan membuat kontrak, yang memuat:
  1. hak dan kewajiban Mi;
  2. hak dan kewajiban MK;
  3. Hak dan Kewajiban Investor.
  1. Manajer investasi akan melakukan penawaran umum atau penjualan secara terus menerus kepada pihak yang akan berminat pada asset tersebut;
  2. Manajer investasi melalui Perantara pedagang efek Melakukan intruksi jual/beli dan;
  3. Perantara Pedangan efek Melaksanakan intruksi jual beli tersebut kepada pasar modal dan atau pasar uang;
  4. Bila ada yang membeli asset tersebut maka pembeli itu akan melakukan pembayaran atas pembelian kepada bank Kustodian.

 

h. Legalitas Hukum dan Pengembangannya Reksadana Syariah

1. Legalitas Hukum Reksadana

a. Reksadana berbentuk persero (corporate type).

Dalam bentuk ini perusahaan penerbit reksadana menghimpun dana dengan mennjual saham, selanjutnya dana dari hasil penjualan tersebut diinvestasikan pada berbagai jenis efek yang diperdagangkan di pasar uang. Reksadana bentuk perseroan yang tertutup dana dan peseroan yang terbuka.

  1. Reksadana tertutup (closed-End Fund). Reksadana yang tidak membeli saham saham yang telah dijual kepada pemodal. Artinya, pemegang saham tidak dapat menjual kembali sahamnya kepada Manajer Investasi. Apabila pemilik saham hendak menjual saham, hal ini harus dilakukan melalui Bursa Efek tempat saham reksadana tersebut di catatkan.
  2. Raksadana Terbuka (OpenEnd Fund0. Reksadana yang menawarkan dan membeli saham sahamnya dari pemodal sampai sejumlah modal yang sudah dikeluarkan. Pemegang saham jenis ini dapat menjual kembali saham/unit penyertanya setiap saat apabila diinginkan Manajer Investasi reksadana, melalui bank Kustodian wajib membelinya sesuai dengan NAB persaham/ unit pada saat tersebut.

Adapun ciri ciri dari reksadana dalam bentuk persero ini adalah:

  1. Bentuk hukumnya adalah perseroan terbatas (PT).
  2. Pengelola kekayaan reksadana didasarkan padakontrak antara Direksi Perusahaan dengan Manajer Investasi dengan bank kustodian.
    1. Reksadana Berbentuk Kontrak Invesatasi Kolektif (Contractual Type). Reksadana ini merupakan kontrak antara Manajer Investasi dengan Bank Kustodian yang mengikat pemegang unit penyerta, di mana Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio investasi kolektif dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan kolektif.

Ciri-ciri dari reksadana ini adalah sebagai berikut:

  1. Bentuk hukumnya adalah Kontrak Investasi Kolektif (KIK);
  2. Pengelola reksadana dilakukan oleh Manajer Invetasi berdasarkan kontrak.
  3. Penyimpanan kekayaan investasi kolektif dilaksanakan oleh Bank Kustodian berdasarkan Kontrak.

Sunariyah dalam tulisannya menambahkan beberapa ciri-ciri lain dari bentuk reksadana syaria, yaitu:

  1. Menjual untuk penyertaan secara terus menerus sepanjang ada investor yang membeli;
  2. Unit penyertaan tidak dicatat di bursa;
  3. Investor dapat menjual kembali (redemption) unit penyertaan yang dimilikinya kepada manajer investasi yang mengelola;
  4. Hasil penjualan atau pembayaran kembali unit penyertaan akan dibebankan kepada kekayaan reksadana dan harga jual atau beli unit penyertaan didasarkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) perunit dihitung oleh Bank Kustodian secara harian.

Dalam bukunya Kamaruddi Ahmad menyebutkan ciri-ciri Reksadana Syariah secara umum terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Reksadana Tertutup, yaitu bila saham sudah dikeluarkan maka saham itu tidak dapat dibeli kembali oleh perusahaan yang mengeluarkan,sehingga sifat modalnya terbatas dan tetap.
  2. Reksadana terbuka, yaitu saham yang sudah dikeluarkan maka dapat di dibeli kembali oleh perusahaan Reksadana yang mengeluarkannya.

 

i. Pengembangan Reksadana

 Memang dalam perkembangannya, Reksadana Syariah Kurang popular dibandingkan dengan Reksadana Konvensional, namun ini wajar saja karena Reksadana Konvensional lebih dulu dikenal. Untuk lebih spesifiknya pengembangan Reksadana Syariah Ini menurut Andri Suemitra adalah sebagai berikut:

Dalam pengembangan Reksadana syari’ah ada kendala kendala yang dihadapi oleh karena itu, kendala dan solisi yang biasa ditawarkan dalam pengembangan rejsadana syariah di Indonesia antara lain :

  1. Reksadana Syariah belum dikenal secara luas. Hanya kalangan masyarakat tertentu yang mengetahui keberadaan Reksadana Syariah. Mereka adalah para pelaku bisnis, praktisi, dan akademis di bidang ekonomi syariah.
  2. Dualisme sistem pasar modal yang menawarkan dua sistem Reksadana, yaitu Reksadana Syariah dan Reksadana Konvensional. Kondisi ini kurang memberikan dukungan bagi tumbuhnya Reksadana Syariah.
  3. Perlunya dukungan dari berbagai pihak baik para pengusaha, akademis, dan pihak-pihak yang terkait agar perkembangan Reksadana Syariah dapat lebih cepat terlealisasi.
  4. Masih terbatasnya instrumen pembiayaan syariah di pasar modal sehingga menyulitkan investor dalam menginvestasikan dananya.

Adapun strategi pengembangan dari reksadana syariah, antara lain:

  1. Memperbanyak jenis reksadana syariah guna memperbanyak alternatif bagi masyarakat untuk menyimpan dananya di reksadana syariah. Sekaligus ini sebagai upaya mendorong bagi tersosialisasinya “amar ma’ru>f nahi> munka>r” di bidang bisnis.
  2. Selama ini perkembangan reksadana syariah dipengaruhioleh faktor permintaan pasar dibanding karena faktor “idealisme”. Oleh karena itu perlu usaha untuk mensosialisasikan idealisme reksadana syariah supaya masyarakat bisa memahami urgensi keberadaan reksadana syariah ini.
  3. Perlunya sinergi dari pemerintah, Bapepam, pengusaha, praktisi, akademisi dan ulama mendorong terbangunnya sistem bisnis syariah terutama di pasar modal guna mengakomodir eksistensi reksadana syariah.

Sehingga walaupun Reksadana Syariah Ini Masih Nomer Dua namun Reksadana Syariah untuk sekarang  sudah banyak yang mencari, yang salah satu pendukungnya adalah maroritas Indonesia adalah berpenduduk Islam.

 

PENUTUP

Dari pemaparan diatas maka dapat diambil kesimpulan, bahwa:

  1. Reksadana syari’ah adalah Reksadana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syari’ah islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal (sohibul mal) dengan manajer investasi sebagai wakil sahibul mal maupun antara manajer investasi dengan pengguna investasi;
  2. Prinsip Dasar reksadana syari’ah, antara lain:
  3. Bukan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya.
  4. Adanya proses screening (penyaringan).
  5. Adanya proses cleaning (purrification).
  6. Proses Valuation saham.
  7. Pengawasan yang lebih selektif.
  8. Adanya Jakarta Islamik Indeks (JII) berguna sebagai tolak ukur bagi investasi berdasarkan syariah.
  9. Investasi pada perusahaan produk halal dalam penempatan dananya reksadana syariah.
  10. Adapun produknya ada dua:
  11. Danareksa Syariah
  12. Danareksa Syariah Berimbang
  13. Mekanisme operasional dalam Reksadana Syari’ah terdiri atas:
  14. antara pemodal dengan Manajer Investasi dilakukan dengan sistem wakalah, dan
  15. antara Manajer Investasi dan pengguna investasi dilakukan dengan sistem mudharabah”.
  16. Legalitas Hukum Reksadana berbentuk
  17. Reksadana berbentuk persero (corporate type).
  18. Reksadana Berbentuk Kontrak Invesatasi Kolektif (Contractual Type).

Tinggalkan komentar