WAKAF: Pengertian, Syarat, Harta dan Nadzir wakaf (Lengkap)

WAKAF: Pengertian, Syarat, Harta dan Nadzir wakaf (Lengkap)

Wakaf – Definisi Wakaf menurut bahasa, artinya: menahan. Sedangkan menurut syarak definisi wakaf adalah: menahan harta yang dapat dimanfaatkan dalam keadaan barang masih utuh, dengan cara memutus pentasarufannya, guna ditasarufkan pada hal yang mubah dan badan tertentu (jihah). Adapun rukun-rukun wakaf itu ada 4, yaitu: Wakif (orang yang mewakafkan), Maukuf (barang yang di wakafkan), Maukuf alaih (pihak yang menerima wakaf), Shighot (redaksi wakaf).

Ayat-ayat Al Quran memerintahkan orang untuk berbuat kebaikan. Di antara ayat yang memerintahkan untuk berbuat kebaikan itu dapat disebutkan misalnya: QS. Al-Hajj: 77: “berbuatlah kebaikan agar kamu bahagia”. Maka dari itu, ayat ini dapat menjadi dasar umum amalan wakaf, karena amalan wakaf adalah termasuk salahsatu macam perbuatan yang baik.

Oleh karenanya, pada kesempatan ini kami ingin mencoba membahas lebih mendalam mengenai beberapa hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh maukuf alaih dan nazhir. Serta bentuk harta yang boleh diwakafkan agar wakaf bisa dilaksanakan dengan baik. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

 

Harta Wakaf

Definisi Wakaf
Definisi Wakaf

Harta benda wakaf hanya dapat diwakafkan apabila dimiliki dan dikuasai oleh wakif secara sah. Harta benda wakaf terdiri dari harta bergerak dan tidak bergerak. Harta bergerak meliputi:

  1. Hak atas tanah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik yang sudah maupun yang belum terdaftar;
  2. Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah sebagaimana dimaksud dalam huruf (a);
  3. Tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah;
  4. Hak milik atas rumah susun sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  5. Benda tidak bergerak lain sesuai ketentuan syari’ah dan peraturan perudang-undangan yang berlaku.

Benda bergerak adalah harta benda yang tidak habis karena dikonsumsi, meliputi:

  1. Uang;
  2. Logam mulia;
  3. Surat berharga;
  4. Kendaraan;
  5. Hak atas kekayaan intelektual;
  6. Hak sewa; dan
  7. Benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan syari’ah dan peraturan perudang-undangan yang berlaku

 

Syarat-syarat Harta Wakaf

Definisi Wakaf
Definisi Wakaf

Dalam mewakafkan harta agar dianggap sah, maka harus memenuhi beberapa syarat, yaitu:

  1. Harta wakaf itu memiliki nilai (ada harganya)

Harta yang ada nilainya adalah harta yang dimiliki orang dan dapat digunakan secara hukum (sah) dalam keadaan normal ataupun tertentu. Seperti uang, buku, dan harta lain yang tak dapat berpindah. Sedangkan harta yang tidak ada nilainya adalah harta yang tidak dapat dimanfaatkan baik dalam keadaan normal maupun tertentu, dan tidak ada dalam kepemilikan seseorang. Syari’ah juga tidak mengakui nilai harta itu dan tidak menjamin jika ada kerusakan, seperti hal-hal yang memabukkan dan yang telah diharamkan bagi umat Islam. Dengan demikian, harta atau benda yang boleh diwakafkan adalah benda yang boleh diperjualbelikan serta dapat dimanfaatkan.

  1. Harta wakaf harus jelas (diketahui)

Fuqaha’ mengharuskan syarat sahnya harta wakaf adalah harta itu harus diketahui secara pasti dan tidak mengandung sengketa. Oleh karena itu, meskipun wakif mengatakan, “aku wakafkan sebagian dari hartaku”, namun tidak ditunjukkan hartanya, maka batal (tidak sah) wakafnya.

  1. Merupakan hak milik wakif

Tidak ada perbedaan pendapat para fuqaha’ bahwa wakaf tidak sah, kecuali jika harta wakaf itu milik pewakaf sendiri. Sebab, wakaf adalah suatu tindakan yang menyebabkan terbebasnya suatu kepemilikan menjadi harta wakaf. Untuk itu, seorang pewakaf haruslah pemilik harta yang diwakafkannya, atau dia adalah orang yang berhak untuk melaksanakan wakaf terhadap semua harta, yaitu dengan diwakilkannya pemilik harta wakaf atau mendapat wasiat untuk melakukan hal itu.

 

Maukuf Alaih

Definisi Wakaf
Definisi Wakaf

Maukuf alaih merupakan tujuan dari wakaf. Tujuan wakaf difahamkan dari hadits Ibnu Umar: “….ia menyedekahkan hasil hartanya itu kepada orang fakir, kepada kerabat, untuk memerdekakan budak, pada jalan Allah, orang terlantar, dan tamu….”

Dari hadits di atas difahami bahwa ada dua macam tujuan wakaf itu, yaitu:

  1. Untuk mencari keridhaan Allah SWT. Termasuk didalamnya segala macam usaha untuk menegakkan agama Islam, seperti mendirikan tempat-tempat ibadah kaum muslimin, kegiatan dakwah, pendidikan agam Islam, penelitian ilmu-ilmu agama Islam, dan sebagainya. Tujuan ini merupakan tujuan utama dari wakaf. Karena itu seseorang tidak bisa mewakafkan hartanya untuk keperluan-keperluan yang berlawanan dengan kepentingan Agama Islam, seperti untuk mendirikan rumah ibadah agama lain selain agama Islam, membantu pendidikan agama selain agama Islam. Demikian pula harta wakaf tidak dikelola dalam usaha-usaha yang bertentangan dengan Ajaran Islam, seperti usaha peternakan babi, modal mengadakan lotre, membangun atau modal pabrik minuman keras (khamar), dan sebagainya.
  2. Untuk kepentingan masyarakat, seperti untuk membantu fakir miskin, apakah ia orang Islam atau bukan, membantu orang terlantar, karib kerabat, mendirikan sekolah, mendirikan asrama anak yatim,dan sebagainya.

Dalam rangka mencapai tujuan dan fungsi wakaf pada pasal 22 undang-undang perwakafan, harta benda wakaf hanya dapat diperuntukkan bagi:

  1. Sarana dan kegiatan ibadah;
  2. Sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan;
  3. Bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, beasiswa;
  4. Kemajuan dan peningkatan ekonomi umat;
  5. Kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan.

Pada pasal selanjutnya, yaitu pasal 23 menjelaskan bahwa;

  1. Penetapan peruntukan harta benda wakaf sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 dilakukan oleh wakif pada pelaksanaan ikrar wakaf.
  2. Dalam hal wakif tidak menetapkan peruntukan harta benda wakaf, nazhir dapat menetapkan peruntukan harta benda wakaf yang dilakukan sesuai dengan tujuan dan fungsi wakaf.

 

Syarat-Syarat Maukuf Alaih

Definisi Wakaf
Definisi Wakaf

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh maukuf alaih, yaitu:

  1. Hendaknya orang yang diwakafi tersebut ada ketika wakaf terjadi. Kalau belum ada, misalnya mewakafkan sesuatu kepada orang yang akan dilahirkan, maka menurut Imamiyah, Syafi’i dan Hambali, wakaf tersebut tidak sah, namun menurut Maliki adalah sah. Para ulama sepakat bahwa, wakaf terhadap orang yang belum ada tetapi merupakan kelanjutan dari orang yang sudah ada, adalah sah.
  2. Hendaknya orang yang menerima wakaf itu mempunyai kelayakan untuk memiliki. Dengan demikian, tidak sah memberikan wakaf kepada binatang, juga memberi wasiat, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Barat, yang mewasiatkan sebagian hartanya agar diberikan kepada seekor anjing, khususnya para tuan-tuan betina. Adapun wakaf kepada masjid, madrasah dan rumah sakit, pada hakikatnya adalah wakaf kepada orang-orang yang memanfaatkannya.
  3. Hendaknya tidak merupakan maksiat kepada Allah, seperti tempat pelacuran, perjudian, tempat-tempat minuman keras dan para perampok. Adapun wakaf kepada non muslim, seperti dzimmi, disepakati oleh para ulama madzhab sebagai sah, berdasarkan ayat Al Quran yang berbunyi: 
Definisi Wakaf
Definisi Wakaf

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil” (Qs. al-Mumtahanah: 8)

Pendapat Lain

Sementara itu, dalam Al-lum’at Al-dimisyqiyyqh, jilid 1, bab Al-waaqf Al-syahid Al-Tsani mengatakan sebagai berikut: “Wakaf boleh diberikan kepada orang dzimmi, sebab dia bukan pelaku maksiat. Mereka adalah hamba-hamba Allah dan merupakan anak cucu Adam yang dihormati.” Seterusnya beliau mengatakan, “Wakaf diserahkan kepada orang-orang Khawarij dan Ghulat, sebab kelompok yang disebut pertama telah mengkafirkan, sedangkan yang telah disebut kedua telah mempertahankannya. Yang terbaik seperti yang dikatakan Imam Ali, adalah kelompok tengah. Beliau mengatakan: “Ada dua golongan yang ada hubungannya denganku yang akan celaka, yaitu pembenci yang kelewatan dan pemuja yang berlebihan.”

  1. Hendaknya jelas orangnya dan bukan tidak diketahui. Jadi kalau seseorang mewakafkan kepada seorang laki-laki atau perempuan (tanpa disebutkan secara jelas siapa orangnya), batallah wakafnya.
  2. Tidak disyaratkan adanya qobul, sekalipun dari maukuf alaih yang tertentu orangnya, mengingat bahwa wakaf itu sudah ibadah, tapi yang disyaratkan adalah tidak ada penolakan.

Maka dari itu, apabila maukuf alaih yang muayyan(ditentukan) menolak barang wakaf, maka batallah haknya terhadap barang wakaf, baik dalam hal ini kita berpendirian bahwa maukuf alaih disyaratkan qobul atau tidak. Tetapi, bila seseorang mewakafkan sejumlah yang tidak melebihi 1/3 kepada ahli waris yang memiliki seluruh warisannya nantinya maka jadilah wakafnya, sekalipun ahli waris tersebut menolaknya.

Dikecualikan dari maukuf alaih yang tertentu orangnya, yaitu mauquf alaih yang berupa arah umum (misalnya para fakir) dan maukuf alaih semacam masjid yang diserupakan dengan jihatut tahrir (pembebasan budak; dari segi hilang hak milik), maka secara mantab tidak diwajibkan ada qobul.

Kemudian ada yang menyebutkan bahwa bagi maukuf alaih, disyaratkan harus hadir sewaktu penyerahan wakaf, harus ahli untuk memiliki harta yang diwakafkan, bukan orang yang durhaka terhadap Allah dan orang yang menerima wakaf itu harus jelas, tidak diragui lagi keberadaannya.

 

Kedudukan Maukuf Alaih atas harta wakaf

Definisi Wakaf
Definisi Wakaf

Sejalan dengan kedudukan wakaf sebagai salah satu macam shadaqoh, harta wakaf terlepas dari hak milik wakif, dan tidak pula pindah menjadi milik orang-orang atau badan-badan yang menjadi tujuan wakaf (maukuf alaih). Harta wakaf terlepas dari hak milik wakif sejak wakaf diikrarkan dan menjadi hak maukuf alaih. Dengan demikian harta wakaf menjadi amanat ditangan pengawas (nazhir).

Misalnya bila seseorang mewakafkan kebun kelapa untuk pemeliharaan rumah sakit yang diselanggarakan oleh sesuatu yayasan islam, maka kebun kelapa itu sejak diikrarkan sebagai harta wakaf terlepas dari harta milik wakif, pindah menjadi hak Allah dan merupakan amanat pada yayasan yang menjadi tujuan wakaf tersebut.

Tentang bagaimana cara mengolah kebun kelapa itu untuk memperoleh hasil yang dapat dipergunakan memelihara dan membiayai rumah sakit bersangkutan, diserahkan sepenuhnya kepada yayasan yang menjadi tujuan wakaf, tetapi dalam waktu sama bertindak sebagai nazhir yang menerima amanat harta wakaf tersebut. Apakah akan diserahkan kepada orang yang dipercaya menjaga dan memeliharanya dengan perjanjian bagi hasil ataukah dengan cara lain, sepenuhnya menjadi wewenang nazhir wakaf.

 

Nazhir

Pengawasan atau perwalian harta wakaf pada dasarnya menjadi hak wakif. Boleh juga wakif menyerahkan pengawasan wakafnya kepada orang lain, baik perseorangan maupun merupakan suatu badan atau organisasi. Untuk menjamin agar perwakafan dapat terselenggara dengan sebaik-baiknya, negara berwenang campur tangan dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang mengatur seluk-beluk perwakafan, termasuk pengawasannya.

  1. Syarat-Syarat Nazhir

Dalam hal pengawasan (nazhir) wakaf adalah seorangan, diperlukan syarat-syarat sebagi berikut:

  1. Berakal sehat.
  2. Telah baligh.
  3. Dapat dipercaya.
  4. Mampu menyelenggarakan urusan-urusan harta wakaf.

Bila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, hakim  menunjuk orang lain yang mempunyai hubungan kerabat dengan wakif, untuk selarasnya dengan prinsip hak pengawasan adalah pada wakif sendiri. Bila orang yang mempunyai hubungan kerabat dengan wakif itu tidak ada, baru menunjuk orang lain.

  1. Hak dan Kewajiban Nazhir

Pembahasan mengenai hak dan kewajiban Nazhir itu dijelaskan dalam undang-undang perwakafan, yaitu;

  1. Kewajiban Nazhir termuat dalam pasal;

PASAL 11

Nazhir mempunyai tugas;

  1. Melakukan pengadministrasian harta benda wakaf;
  2. Mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan tujuan, fungsi dan peruntukannya;
  3. Mengawasi dan melindungi harta benda wakaf;
  4. Melaporkan pelaksanaan tugas pada Badan Wakaf Indonesia;

PASAL 42

Nazhir wajib mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan tujuan, fungsi, dan peruntukannya.

PASAL 43

  1. Pengelolaan dan pengembangan harta wakaf oleh nazhir sebagaimana dimaksud dalam pasal 42 dilaksanakan sesuai dengan prinsip syariah.
  2. Pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara produktif.
  3. Dalam hal pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang dimaksud pada ayat (1) diperlukan penjamin, maka digunakan lembaga penjamin syariah.

PASAL 44

  1. Dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf, Nazhir dilarang melakukan perubahan peruntukan harta kecuali atas dasar izin tertulis dari Badan Wakaf Indonesia.
  2. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan apabila harta benda wakaf ternyata tidak dapat dipergunakan sesuai dengan peruntukan yang dinyatakan dalam ikrar wakaf.
  3. Hak Nazhir termuat dalam pasal;

PASAL 12

Dalam melaksanakan tugas sebagaiman dimaksud dalam pasal 11, Nazhir dapat menerima imbalan dari hasil bersih atas pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang besarnya tidak melebihi 10%.

Sayyid Sabiq dalam kitabnya menjelaskan bahwa nazhir boleh memakan hasil dari harta wakaf, ini didasari oleh hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Amir “ tidak apa-apa bagi nazhir untuk memakan hasil dari harta wakaf dengan baik (ma’ruf)”. Maksud dari kata ma’ruf  di dalam hadist ini adalah bagian yang boleh dimakan oleh nazhir itu kadarnya menurut adat yang berlaku di tempat itu. Sedangkan menurut Qurthubi :  sudah menjadi kebiasaan (adat) bagi nazhir memakan atau mengambil manfaat dari hasil harta wakaf selama tidak ada persyaratan untuk tidak memakan atau mengambilnya dari wakif”.

PASAL 13

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 11, Nazhir memperoleh pembinaan dari Mentri dan Badan Wakaf Indonesia.

 

Kesimpulan

  1. Wakaf menurut bahasa, artinya: menahan, sedangkan menurut bahasa artinya: menahan sedang menurut syarak adalah: menahan harta yang dapat dimanfaatkan dalam keadaan barang masih utuh, dengan cara memutus pentasarufannya, guna ditasarufkan pada hal yang mubah dan badan tertentu (jihah)Harta wakaf itu adakalanya berupa benda bergerak dan tidak bergerak dan merupakan harta milik wakif yang bernilai dan harus diketahui dengan jelas.
  2. Maukuf alaih merupakan sarana dan tujuan wakaf.
  3. Maukuf alaih harus berupa hal-hal yang bermanfaat bagi kepentingan umum dan tidak boleh berupa hal yang merupakan maksiat kepada Allah.
  4. Maukuf alaih itu berhak menerima harta wakaf, tapi bukan berarti bahwa harta wakaf itu beralih menjadi hak milik maukuf alaih. Melainkan harta wakaf itu menjadi amanat dari Allah yang harus dikembangkan, baik dikembangkan sendiri atau diserahkan kepada pengelola (nazhir).
  5. Nazhir adalah pengelola harta wakaf. Nazhir bertugas untuk mengelola dan mengembangkan harta wakaf dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya. Nazhir juga berhak mendapatkan bagian 10% dari hasil harta wakaf selama tidak ada syarat tidak diperbolehkannya dari wakif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Tim redaksi, kompilasi hukum Islam, (Bandung: nuansa auliya, 2008)

Muhammad Abid Abdullah al-Kabisi, hukum wakaf, (depok: dompet dhu’afa republika dan iiman, 2004)

Asymuni A Rahman, ilmu fiqh. (Jakarta: depag RI.1986),

Departemen Agama Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Tahun 2006, Peraturan Perundangan Perwakafan, (Jakarta; departemen Agama, 2006).,

Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab, (Jakarta; Lentera Basritama, 1996).,

Asy-Syekh bin Abdul Aziz Al-Malibari, Terjemah Fathul Mu’in Juz 2, (Surabaya; Al-Hidayah).,

  1. Abdul Halim, hukum perwakafan di indonesia, (ciputata: ciputat press, 2005),

Ahmad Azhar Basyir, Hukum Islam Tentang Wakaf Ijarah Syirkah, (Bandung; PT Alma’arif, 1987).,

Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah Juz 3, (Kairo; Dar Al-Fath, 1995).,

 

Boleh Copypaste materi dari web ini, tapi jangan lupa cantumkan sumbernya ya. Terimakasih.

 

Tinggalkan komentar