WALIMAH: Resepsi Pernikahan dalam Islam

WALIMAH: Resepsi Pernikahan dalam Islam

Walimah – Acara walimah merupakan kegiatan yang tidak jarang dilakukan oleh sekelompok golongan, kegiatan ini sering kita saksikan di tengah-tengah masyarakat saat ini, ketika mengadakan suatu acara kecil maupun besar, dengan mendatangkan tamu undangan dari berbagai daerah, dan menyambut mereka dengan berbagai macam jenis makanan (biasanya di dalam suatu acara pernikahan), sesuai dengan kondisi ekonomi seseorang yang memilki hajatan dan sesuai dengan budaya dan tradisi yang berjalan di suatu tempat.

 

A. Definisi Walimah

Setiap ada pernikahan selalu dibarengi dengan resepsi pernikahan atau walimah ursy. Sebuah acara yang diadakan oleh seseorang untuk memperkenalkan pengantin kepada masyarakat luas sebagai pasangan suami istri, sehingga saat mereka pergi berdua tidak menimbulkan fitnah.

Menurut Imam Syafi’i, walimah diambil dari kata walmun yang berarti sebuah perkumpulan, karena berkumpulnya dua mempelai. Walimah disebut juga makanan yang disediakan ketika acara pernikahan.

Menurut Sayyid Sabiq Walimah berasal dari kata al-walam yang artinya berkumpul, karena sepasang suami istri berkumpul. Sedangkan secara  istilah, walimah adalah makanan yang disajikan secara khusus dalam perkawinan.

 

Baca Juga: Resep Bakso: Cara Membuat Bakso Ala Rumahan yang Mudah dan Bikin Ketagihan

 

Adapun menurut Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, walimah berarti penyajian makanan untuk acara pesta. Ada juga yang mengatakan, walimah berarti segala macam makanan yang dihidangkan untuk acara pesta atau lainnya.

Syaikh Ali Syuaisyi menjelaskan bahwa walimah atau resepsi itu adalah sebuah pertemuan yang diselenggarakan untuk jamuan makan dalam rangka merayakan sebuah kegembiraan yang terjadi, baik berupa perkawinan atau lainnya. Secara mutlak walimah populer digunakan untuk merayakan kegembiraan pengantin. Tetapi juga bisa digunakan untuk acara-acara yang lain. Contohnya: walimah khitan, walimah tasmiyah, dan lain sebagainya.

Walimah adalah perayaan yang dilaksanakan dalam acara tasyakuran pernikahan, dengan mendatangkan undangan para tetangga dan kerabatnya agar calon temanten dikenal dan diketahui oleh para tetangga dan kerabatnya tersebut. Hal ini juga dapat berfungsi untuk lebih mempererat persatuan dan kekeluargaan di antara mereka. Undangan yang hadir merupakan wahana untuk meminta doa restu untuk mempelai agar bisa membentuk keluarga sakinah mawadah wa rahmah. Selain untuk meminta doa restu merupakan wahana silaturahmi untuk bercengkerama dengan saudara dan kerabat yang lama tidak bertemu.

 

B. Dasar Hukum Walimah

1. Hukum Mengadakan walimah

Setelah prosesi akad nikah selesai, maka acara selanjutnya adalah prosesi walimah. Para ulama berpendapat bahwa hukum walimah adalah sunnah muakkad. Mereka mendasarkan pendapat mereka kepada hadits:

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص رَأَى عَلَى عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ اَثَرَ صُفْرَةٍ فَقَالَ: مَا هذَا؟ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنّى تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ. قَالَ: فَبَارَكَ اللهُ لَكَ. اَوْلِمْ وَ لَوْ بِشَاةٍ. مسلم

 Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW pernah melihat bekas kekuningan pada Abdurrahman bin Auf. Lalu beliau bersabda: “Apa ini?” ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menikahi seseorang perempuan dengan mas kawin senilai satu biji emas. Beliau bersabda:”Semoga Allah memberkahimu, selenggarakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain disebutkan, tatkala Ali bin Abi Thalib ra. melamar Fathimah, Rasulullah SAW bersabda:”Pernikahan itu harus ada walimahnya”. (HR. Ahmad)

Jumhur ulama menafsirkan bahwa perintah untuk mengadakan walimah dalam hadits di atas adalah sunnah, bukan wajib. Hanya saja, mereka menafsirkan perintah untuk mengadakan walimah tersebut sebagai sebuah kewajiban. Sehingga bagaimanapun keadaannya, walimah harus diadakan.

 

2. Hukum memenuhi Undangan Walimah

Secara umum, para imam madzhab sepakat bahwa hukum menghadiri walimah bagi tamu yang diundang adalah wajib. Adapun menghadiri selain undangan walimah adalah sunnah. Wajib dan sunnahnya mendatangi walimah bisa dilihat pada syarat-syarat yang telah disepakati oleh para ulama madzhab yaitu hendaknya orang yang mengadakan walimah bukan dari golongan orang yang fasik, zalim yang memiliki tujuan untuk kerusakan dan maksud-maksud tertentu, orang yang diundang tidak bisa hadir karena sakit/udzur, undangan harus jelas, dan tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan. Apabila syarat tersebut tidak dipenuhi maka seseorang tidak diwajibkan untuk menghadiri undangan walimah.

Madzhab Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat menghadiri walimah adalah wajib. Hanafiiyah menghukumi sunnah. Sedangkan Malikiyyah menghukuminya dengan 5 hukum, wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram, disesuaikan dengan tujuan shohibul bait dalam menyelenggarakan walimah.

Syaikh asy-Syarbini Rahimahullah mengatakan: “memenuhi undangan walimah itu hukumnya fardhu ain.” Mengomentari sabda Nabi Muhammad SAW “Apabila  salah seorang kalian diundang ke acara walimah, hendaklah ia mendatanginya.” Imam an-Nawawi Rahimahullah mengatakan Sabda Beliau SAW ini merupakan perintah untuk menghadirinya. Namun perintah di sini apakah wajib atau sunnah para ulama berbeda pendapat. Dalam pedapat Imam an-Nawawi, pendapat yang lebih shahih hukumnya fardhu ain bagi setiap orang yang diundang kecuali udzur.

 

3. Kadar Biaya dalam Walimah

Sebenarnya, tidak ada batasan jumlah materi yang dikeluarkan dalam acara walimah. Hanya saja, acara tersebut jangan sampai berlebihan-lebihan. Rasulullah SAW pernah mengadakan walimah dengan biaya kurang dari harga satu ekor kambing. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh bukhori dijelaskan bahwa Rasulullah SAW mengadakan walimah untuk pernikahannya dengan beberapa orang istri beliau dengan dua mud gandum. Pada waktu lainnya, saat menikahi Zainab, beliau mengadakan walimah dengan menyembelih seekor ambing. Dan ketika menikahi Maimunah binti al-Harits, beliau mengundang penduduk Makkah dan mengadakan acara walimah dengan menyuguhkan kambing dan roti. Artinya ini lebih dari seekor kambing.

 

C. Syarat-syarat Walimah

Agar acara walimah menjadi pesta yang penuh berkah, maka perlu memperhatikan etika dan adab-adab penyelenggaraan walimah. Ulama Syafi’iyyah menyebutkan beberapa syarat dikatakan walimah ini boleh dilaksanakan dan wajib didatangi oleh siapa saja yang diundang ke dalam acara tersebut, antara lain:

  1. Tamu undangan tidak dikhususkan orang kaya, dengan mengabaikan orang-orang miskin.
  2. Penyelenggara adalah seorang muslim yang mukallaf, merdeka dan dewasa.
  3. Tidak mengkhususkan datang di hari pertama saja.
  4. Walimah tersebut ditujukan untuk meningkatkan cinta antar sesama dan menjalin ukhuwah dan kedekatan
  5. Walimah diadakan tidak dari uang haram atau hasil perbuatan dzalim
  6. Tidak ada kemungkaran di dalamnya.

 

D. Hikmah Walimah

Diadakannya walimah dalam pesta perkawinan memiliki beberapa hikmah yang terkandung di dalamnya, antara lain:

  1. Merupakan rasa syukur kepada Allah SWT
  2. Tanda penyerahan anak gadis kepada suami dari kedua orang tuanya
  3. Tanda resminya adanya akad nikah
  4. Sebagai realisasi arti sosiologi dari akad nikah
  5. Menghindari fitnah dari suami istri yang bersangkutan tentang anggapan adanya kumpul kebo atau kehamilan di luar nikah.

Betapa penting dan sakralnya walimah al-‘ursy dalam pernikahan khususnya bagi kaum perempuan. Dikarenakan hal tersebut demi terjaganya martabat dan kehormatan perempuan. Sehingga perempuan tidak mudah untuk dipandang sebelah mata serta tidak terulangnya kembali kebiasaan yang mana telah terjadi pada masa masa jahiliyah dahulu. Islam pun menjunjung tinggi dalam menghormati kaum perempuan. Tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Di mata Allah keduanya mempunyai derajatnya sama, hanya keimanan dan ketaqwaan yang membedakannya.

 

E. Faktor Psikologis Walimah

 Walimahan mantenan adalah merupakan budaya ketika acara nikah berlangsung atau sesudahnya, bisa juga dilaksanakan sesuai dengan adat dan kebiasaaan yang berlaku dalam masyarakat. Walimahan mantenan merupakan ikatan lahir batin anatara pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu walimah harus menampakkan syiar kebaikan, sehingga ada nilai ibadah, dakwah dan sosial yang terhimpun di dalamnya. Yang harus diperhatikan, antara lain: tidak mengandung unsur kemaksiatan, tidak berlebihan, bukan untuk gengsi, dan  hendaknya dengan mengundang fakir miskin.

 

F. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan sebelumnya dapat disimpulkan 3 poin sebagaimana permasalahan yang dikaji oleh penulis.

  1. Definisi walimah adalah peresmian pernikahan yang tujuannya untuk memberi tahu khalayak bahwa kedua mempelai telah resmi menjadi suami istri.
  2. Adapun hikmah walimah yaitu sebagai informasi kepada khalayak ramai telah terjadinya pernikahan dan semua sanak keluarga serta kerabat lainnya dapat berkumpul merayakan hari kebahagiaan serta mendoakan yang terbaik agar hidup dengan rukun sebagai pasangan suami isteri.
  3. Prosesi walimah tidak terlepas dari faktor-faktor psikologis yang melatarbelakanginya agar tercipta pernikahan yang sakinah mawadda wa rahmah sebagaimana tujuan berumah tangga. Walimah harus menampakkan syiar kebaikan, sehingga ada nilai ibadah, dakwah dan sosial yang terhimpun di dalamnya. Beberapa faktor psikologis yang dipenuhi dalam walimah antara lain tidak mengandung unsur kemaksiatan, tidak berlebihan, bukan untuk gengsi, dan hendaknya dengan mengundang fakir miskin.

 

 

Tinggalkan komentar