WASIAT: Pengertian dan Hukumnya Berdasarkan tinjauan Hadits

WASIAT: Pengertian dan Hukumnya Berdasarkan tinjauan Hadits

Wasiat – Berwasiat adalah sunah Nabi saw dan para nabi sebelumnya, oleh karenanya, seyogyanya bagi seorang muslim agar mengikuti mereka dan berwasiat kepada anak-anaknya dan keluarganya agar mereka senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dan berpegang teguh dengan ajaran agama.
Sesungguhnya di antara perkara yang wajib untuk diingat oleh kaum muslimin adalah menulis wasiat, sebab menulis wasiat ini memberikan manfaat yang sangat besar baik di dunia dan akherat, sementara di sisi lain banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan masalah ini.

Pengertian Wasiat

Kata wasiat diambil dari kata washshaitu, ash-shaia, uushiihi, artinya aushaituhu (aku menyampaikan sesuatu). Secara istilah wasiat adalah pemberian seseorang kepada orang lain (berupa barang, piutang atau manfaat) untuk dimiliki oleh si penerima sesudah orang yang berwasiat mati.
Sebagian ahli fikih mendefinisikan wasiat adalah pemberian hak milik secara sukarela yang dilaksanakan setelah pemberinya mati. Perbedaannya dengan hibah adalah, pada hibah, pemilikan diperoleh pada saat itu juga, sedang pemilikan pada wasiat diperoleh setelah si pemberi wasiat mati. Perbedaan yang lain; hibah itu berupa barang; sementara wasiat bisa berupa barang, piutang maupun manfaat.

حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِىُّ – وَاللَّفْظُ لاِبْنِ الْمُثَنَّى – قَالاَ حَدَّثَنَا يَحْيَى – وَهُوَ ابْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ – عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِى نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَىْءٌ يُرِيدُ أَنْ يُوصِىَ فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ ».

Menceritakan kepada kami Abu Khutsaimah ibn Harb dan Muhammada al-Mutsanna al-‘Anaziy (lafazhnya bagi Ibn Mutsanna), mereka berdua berkata, menceritakan kepada kami Yahya, yaitu Ibn Sa’id al-Qatthan, dari ‘Ubaidillah, menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibn ‘Umar, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim tidak berhak (tidak ada suatu kewajiban) mewasiatkan sesuatu yang ia miliki kurang dari dua malam (hari), kecuali jika wasiat itu tertulis darinya”

 

    Baca Juga: WALIMAH: Resepsi Pernikahan dalam Islam

Kualitas Hadist

Setelah dilakukan penelitian, kualitas hadist ini ditinjau dari segi kuantitas perowinya, termasuk hadist mutawatir lafdzi,karena diriwayatkan oleh banyak perowi yang sama bunyi lafadz dan maknanya. Sedangkan dtinjau dari segi kualitas hadistnya, hadist inidinilai shohih lidzatihi, karena sudah memenuhi lima syarat atau kriteria hadist shohih secara sempurna, yaitu persambungan sanad (اتصال السند), keadilan para perawi (عدالة الرواة), para perawi bersifat dhabith (ضبط الرواة), tidak terjadi kejanggalan (عدم الشذوذ), tidak terjadi ‘illat (عدم العلة).

 

Makna Ijmali

Hadist di atas menjelaskan tentang anjuran bagi seorang muslim yang ingin berwasiat dari hartanya hendaklah ia segera menulis wasiatnya sebelum kematian datang secara mendadak. Dan hendaklah ia memperhatikan pengesahannya (keautentikannya) dan mempersaksikan atasnya.

 

Makna Tafshili

Perkataan مَاحَقُّ“tidak wajib” itu oleh Imam Syafi’i dikatakan, bahwa maksud hadist tersebut adalah sebagai berikut: Tidak ada suatu kepastian dan jaga-jaga bagi seorang muslim, melainkan wasiatnya tertulis di sisinya. Imam Syafi’i mengatakan, lafazh ما maksudnya dalam hadits ini adalah untuk mengikat artinya peniadaan kewajiban wasiat kecuali wasiat tersebut tertulis. Dikhawatirkan karena jika ia ingin berwasiat terhadap sesuatu, dia tidak mengetahui kapan kematian akan mendatanginya, dan segala sesuatu yang ia miliki pun akan berubah tidak diketahui kapan waktunya.

 

Asal Mula Makna Wajib

Pada lafadz ” يريد أن يوصي ” tidak menunjukkan bahwasannya wasiat itu wajib, tetapi wasiat itu atas kehendak si mayyit sendiri. Para ulama berbeda pendapat apakah wasiat itu termasuk wajib atau tidak. Jumhur berpendapat bahwa wasiat adalah sunnah (mandub). Sedangkan Dawud, Abu Tsaur dan para pengikut imam Ad-Dhohiri mewajibkannya. Hadist ini dan firman Allah yang berbunyi:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqoroh: 180)

Menurut segolongan ulama salafi, ayat di atas dijadikan dalil atas wajibya wasiat. Sedang menurut jumhur, wasiat itu hukumnya sunnah bukan wajib. Oleh mereka ayat wasiat diatas dikatakan mansukh (dihapus) oleh ayat-ayat waris. Abu Tsaur berkata: Ayat tersebut tetap menunjukkan wajibnya wasiat. Sedang hadist di atas menentukan orang yang dibebani kewajiban syara’ yang sangat dikhawatirkan kewajiban itu akan hilang/ tidak terlaksana apabila tidak diwasiatkan. Misalnya barang-barang titipan, hutang dan sebagainya. Sedang Ibn Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Bari: Ringkasnya kita kembali kepada jumhur, bahwa wasiat itu tidak wajib ain, tetapi yang menjadi wajib ain itu ialah keluar dari hak-hak yang wajib milik orang lain, baik dengan cara dilaksanakan (sebelum yang diberi amanat itu meninggal dunia) ataupun dengan cara diwasiatkan (yang pelaksananya sesudah yang bersangkutan meninggal dunia).

 

Makna Dua Malam

Sabdanya ليلتين “dua malam” itu hanya kira-kira, bukan untuk pembatasan masa penangguhannya. Karena jika tidak untuk pengertian kira-kira itu, maka sudah diriwayatkan dengan tiga malam. Kata At-Thibi: mengenai pengkhususan dua malam itu terkandung keluwesan. Maksudnya tidak pantas penangguhannya waktu wasiat padahal kami sudah memberikan tenggang dua dan tiga malam itu. Tidak pantas melebihi waktu itu.

 

Makna “Tertulis”

Sabdanya مَكْتُوبَةٌعِنْدَهُ, dijadikan dalil tentang kebolehan berpegangan pada tulisan sekalipun tidak disertai saksi. Menurut ulama Syafi’iyah: bahwa penulisan itu khusus bagi wasiat saja. Boleh berpegang pada tulisan itu tanpa saksi karena sudah jelas beritanya dalam tulisan itu, dan sebab wasiat itu setelah diperintahkan oleh Allah, sedang wasiat adalah termasuk suatu kewajiban dan keharusan, maka wajib baginya memperbarui waktunya dalam setiap kewajiban yang hendak dia bersihkan, karena khawatir tiba-tiba datang suatu saat sulit dan bahkan udzur pada waktu lainnya. Oleh karena itu seharusnya tidak wajib wasiat dengan penulisan tanpa saksi karena tidak ada gunanya.
Sudah jelas ada perintah tersebut dalam hadist itu untuk berwasiat. Maka itu menunjukkan penerimaan wasiat tanpa saksi, kata jumhur ulama maksud hadist itu ialah ditulis dengan syaratnya, yaitu kesaksian seorang saksi. Mereka mengemukakan dalil firman Allah yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang Dia akan berwasiat, Maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu…(QS. Al-Maidah: 106)

Ayat tersebut menunjukkan pentingnya kesaksian dalam wasiat. Pendapat mereka itu dibantah dengan alasan bahwa adanya sebutan kesaksian dalam ayat tersebut bukanlah menunjukkan tidak sahnya selain dengan persaksiannya itu. Yang benar bahwa yang penting mengetahui penulisan itu. Apakah orang yang memberi wasiat itu sudah mampu menulis maka seharusnya dipraktekkan penulisan wasiat itu.

 

Baca Juga: CARA MENJADI KAYA: Resep Kaya dari Rasulullah SAW

Pendapat Ulama Tentang Wasiat

Mengenai hukum wasiat sendiri para Ulama’ berbeda pendapat, antara lain sebagai berikut:
1. Menurut al Zuhri hukum wasiat adalah wajib atas harta yang di tinggalkan baik harta itu banyak ataupun sedikit, pendapat beliau merujuk pada pandangan Ibnu Hazm yang bertendensi pada dalil Surat al Baqarah ayat 180.
2. Menurut Iyas, Qatadah dan ibnu Jarir bahwasanya wasiat itu wajib bagi kedua orang tua dan kerabat-kerabat yang tidak menjadi ahli waris atas harta si mayyit.
3. Memnurut ulama’ Madzahibul Arba’ah dan Zaidiyah, bahwasanya tidak ada keharusan dalam berwasiat atas setiap harta peninggalan sebagaimana yang dijelaskan pada pendapat pertama. Dan tidak seperti pendapat kedua bahwasannya wasiat itu wajib atas kedua orang tua dan kerabat yang bukan ahli waris, akan tetapi hukum wasiat itu berbeda-beda tergantung dengan situasi dan kondisi yang terjadi. maka dari itu hukum wasiat bisa menjadi fleksibel sesuai dengan kondisi yang terjadi. bisa sunnah, makruh atau mubah bahkan haram.

 

Hukum Wasiat

Tetapi dalam menetapkan hukum asal wasiat mereka bersepakat bahwasanya wasiat adalah mandub atau di anjurkan terlepas dari situasi dan kondisi yang terjadi. berikut penjelasannya:
a. Wajib Wasiat diwajibakan mana kala apabila tidak berwasiat ditakutkan ada hak-hak syar’i yang terabaikan. misalnya berwasiat untuk menunaikan zakat atas harta yang mewasiati, berwasiat membayar hutang dan lain-lain.
b. Sunnah Wasiat itu dianjurkan bagi bagi kerabat-kerabat yang tidak menjadi ahli waris, para fakir miskin dan orang-orang yang saleh
c. Haram Apabila wasiat tersebut malah membahayakan bagi ahli waris, sebagaimana hadis nabi,
حَدَّثَنا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ بْنِ الْمُهْتِدِى بِاللَّهِ حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ سَهْلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِى هِنْدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الإِضْرَارُ فِى الْوَصِيَّةِ مِنَ الْكَبَائِرِ ».
d. Makruh Wasiat itu makruh apabila الموصي(orang yang berwasiat) itu mempunyai harta yang sedikit
e. Mubah Misalnya Wasiat kepada orang yang kaya

 

Rukun Wasiat

Rukun wasiat adalah ijab dari orang yang mewasiatkan. Ijab dengan ucapan. Ijab itu dengan segala lafadz yang menunjukkan kepemilikan yang dilaksanakan sesudah dia matai dan tanpa adanya imbalan. Seperti: “Aku wasiatkan kepada si A begini setelah aku mati”, atau “Aku berikan itu “atau “Aku serahkan pemilikannya kepada si B sepeninggalku.” dll.
Ijab dengan isyarat dan tulisan. Selain terjadi dengan melalui pernyataan, wasiat bisa terjadi pula melalui isyarat yang dapat dipahami, bila pemberi wasiat tidak sanggup berbicara; juga sah pula akad wasiat melalui tulisan. Wasiat untuk umum. Apabila penerima wasiat tidak tertentu, seperti untuk masjid, tempat pengungsian, sekolah atau rumah sakit, maka ia tidak memerlukan kabul; cukup dengan ijab saja, sebab dalam keadaan yang demikian wasiat itu menjadi shadaqah.

 

Cara melakukan Wasiat

Wasiat dapat dilakukan dengan cara berikut:
1) Dengan cara tertulis, yaitu apa-apa yang akan diwasiatkan itu ditulis dengan jelas.wasiat dengan cara in lebih ibaik karena menunjukkan kehati-hatian untuk mencegah terjadinyakekeliruan sepeninggalnya.
2) Dengan cara mendatangkan dua orang saksi laki-laki yang adil.jika pewasiat tidak dapat menulis, hendaklah ia memanggil dua orang laki-laki yang dipercaya,jujur, dan adil untuk menyaksikan wasiat yang ia berikan kepada orang yang ditunjuk.
Dalam melakukan wasiat, syarak tidak menetapkan bentuk yang perlu diikuti, maka wasiat yang dilakukan itu sama ada secara ucapan, bertulis atau isyarat dibolehkan selagi tujuan pewasiat jelas dinyatakan dan cara yang dilakukan sesuai dengan keadaan pada ketika itu. Walau bagaimanapun, sebaik-baik wasiat hendaklah dilakukan dalam bentuk tulisan ketika badan masih lagi sehat dan disaksikan.
Adapun ketika terjadi perbedaan antara isi wasiat yang tertulis dan wasiat lisan, maka harus diperhatikan apakah wasiat yang satu dimaksudkan untuk membatalkan wasiat yang lainnya? lalu, kalau tidak, mana yang lebih mendekati ketentuan di atas? Kalau kemudian tidak ada kesimpulan yang bisa disepakati, hendaknya di bawa ke pengadilan agama untuk melihat mana di antara dua wasiat tersebut yang bisa dilaksanakan.
Di negara kita, pelaksanaan wasiat diatur dalam KHI pasal 195 point 1, bahwa wasiat harus dilakukan dengan tiga cara, yaitu, a) secara lisan di hadapan dua orang saksi, b) tertulis di hadapan dua orang saksi, c) di hadapan notaris.

Semoga Bermanfaat

Tinggalkan komentar