ZAKAT: Pengertian Zakat dan Perbedaannya dengan Shadaqah, Infaq, dan Pajak (Lengkap)

ZAKAT: Pengertian Zakat dan Perbedaannya dengan Shadaqah, Infaq, dan Pajak (Lengkap)

Zakat – Pengertian zakat adalah mengeluarkan harta tertentu dengan kadar tertentu kepada orang tertentu pada waktu tertentu. Zakat adalah rukun Islam ketiga yang diwajibkan di Madinah pada bulan Syawal tahun kedua Hijriyah, setelah diwajibkannya puasa Ramadhan dan zakat Fitrah. Ayat-ayat zakat, shodaqah dan infaq yang turun di Makkah, baru berupa anjuran dan penyampaiannya menggunakan metodologi pujian bagi yang melaksanakannya dan cacian atau teguran bagi yang meninggalkannya. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk beroleh berkat, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan pelbagai kebaikan.

Sebagai makhluk sosial, tentunya kita tidak dapat hidup sendiri-sendiri, perlu adanya rasa empati antar sesama untuk mempererat hubungan persaudaraan. Dan kondisi sosial kita yang beraneka ragam, telah menuntut kita untuk menyisihkan sebagian kekayaan kita untuk orang lain dalam bentuk zakat.

Dengan demikian, selain kita telah melaksanakan kewajiban untuk mengeluarkan zakat, kita juga telah meringankan beban saudara-saudara kita. Selain melalui zakat, kita juga bisa berempati melalui infaq, shadaqah, maupun pungutan pemerintah berupa pajak.

 

Pengertian Zakat

Pengertian Zakat
Pengertian Zakat

1. Menurut Bahasa (lughoh)

Kata zakat berasal dari bahasa Arab “Zakka-yuzakki-tazkiyatan-zakaatan” yang memiliki arti sebagai berikut:

  1. al-Thoharoh (membersihkan/mensucikan)
    Firman Allah Ta’ala:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”

  1. al-Namaa’ (tumbuh /berkembang)
    Firman Allah Ta’ala (yang artinya) :

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah”

Sabda Rasulullah Saw. dari hadits Abu Rabsyah Al-An Maary. “Harta tidak akan berkurang dengan dishadaqahkan”. (HR. Tirmidzi, kitab Az Zuhd jilid 4 hal. 487 no. 2325, kata Imam Tirmidzi “Hadits ini hasan shohih”)

  1. al-Barokah
    Firman Allah Ta’ala:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“…dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.”

Sabda Rasulullah Saw. dari hadits Abu Hurairoh ra.: Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: “Hai anak Adam berinfaqlah niscaya Aku akan berinfaq untukmu”. (HR. Bukhori, Kitab Tafsir Surat Hud 8: 352 (4684); Muslim, Kitab Zakat 7:81 no. 2305)

 

2. Zakat Dalam Bahasa Al-Qur’an

Sedangkan al-Qur’an al-Karim telah menyebutkan tentang zakat dengan berbagai ungkapan, terkadang dengan ungkapan zakat, shadaqah, infaq/nafaqoh dan Al-’afwu, dan al-haq.

  1. Zakat
    Firman Allah Ta’ala:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku”.

  1. Shadaqah
    Firman Allah Ta’ala:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

            “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (At-Taubah:103)

  1. Infaq/Nafaqoh
    Firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

            Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu…” 

  1. Al-’Afwu
    Firman Allah Ta’ala:

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ

“…dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan”… (QS. Al Baqarah: 219)

  1. al-Haq (hak)

Firman Allah Ta’ala:

 

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“…Dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (dengan dishadaqahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-An’am: 141)

3. Menurut Hukum (Istilah syara’)

Dalam kitab Fiqh al-Sunnah, Sayyid Sabiq mengatakan Zakat ialah nama/sebutan dari suatu Dzat Allah Ta’ala yang dikeluarkan seseorang kepada fakir miskin. Dalam terminologi fiqih, secara umum zakat didefinisikan sebagai bagian tertentu dari harta kekayaan yang diwajibkan Allah Swt. untuk sejumlah orang yang berhak menerimanya. Mahmud Syaltut, seorang ulama’ kontemporer dari Mesir, mendefinisikan zakat sebagai ibadah kebendaan yang diwajibkan oleh Allah SWT, agar orang kaya menolong orang yang miskin berupa sesuatu yang dapat menutupi kebutuhan pokoknya. Pengertian ini sejalan dengan yang dirumuskan oleh Yusuf al-Qardhawi, yang mengatakan bahwa zakat adalah ibadah maliyah yang diperuntukkan memenuhi kebutuhan pokok orang-orang yang membutuhkan.

Dari pengertian-pengertian di atas terkandung makna, bahwa zakat memiliki dua dimensi ibadah yang dilestarikan dengan perantaraan harta benda dalam rangka mematuhi perintah Allah Swt. dan mengharapkan pahala darinya, dan dimensi sosial yang dilakukan atas dasar kemanusiaan. Berikut kami nukilkan sebagian pendapat para Imam mengenai pengertian zakat, di antaranya:

Pendapat al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani:

“Zakat adalah memberikan sebagian harta yang sejenis yang sudah sampai nashob selama setahun dan diberikan kepada orang fakir dan semisalnya yang bukan dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib.” (Al-Fath 3:262)

Pendapat Ibnu Taimiyah:

“ Zakat adalah memberikan bagian tertentu dari harta yang berkembang jika sudah sampai nishob untuk keperluan tertentu.” (Mausu’ah Fiqh Ibnu Taimiyah 2: 876; Fatawa 25:8)

Pendapat Syaikh Abdullah al-Bassam:

“ Zakat adalah hak wajib dari harta tertentu, untuk golongan tertentu pada waktu tertentu.” (Taudhihul Ahkam 3:5)

 

Perbedaan Zakat, Infaq, Shadaqah.

Secara terminologis zakat adalah kewajiban harta yang spesifik, memiliki syarat tertentu, alokasi tertentu dan waktu tertentu. Adapun infaq yaitu mengeluarkan harta yang mencakup zakat dan non zakat. Infaq ada yang wajib ada yang sunnah. Infaq wajib diantaranya kafarat, nadzar, zakat dll. Infaq sunnah diantaranya infaq kepada fakir miskin, sesama Muslim, infaq bencana alam dll.

Adapun shadaqah maknanya lebih luas dari zakat dan infaq. Shadaqah dapat bermakna infaq, zakat dan kebaikan non materi. Dalam hadist riwayat Muslim, Rasulullah saw memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershadaqah dengan hartanya, Beliau bersabda:

“Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap tahlil shadaqah, amar ma’ruf shadaqah, nahi munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya pada istri juga shadaqah”.

Shadaqah adalah ungkapan kejujuran (shidq) iman seseorang. Oleh karena itu Allah Swt. menggabungkan antara orang yang memberi harta di jalan Allah dengan orang yang membenarkan adanya pahala yang terbaik. Antara yang bakhil dengan orang yang mendustakan. Disebutkan dalam surat al-Lail ayat 5-10:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (٨) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (٩)فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (١٠

           “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya (jalan) yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”.

Bila melihat definisi-definisi di atas, pada hakekatnya zakat sama dengan shadaqah dan infaq, yaitu nama/sebutan bagi sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah Swt. supaya diserahkan kepada orang-orang yang berhak. Namun pengertian zakat yang berkembang di masyarakat adalah bila disebut zakat maka yang dimaksud adalah shadaqah wajib seperti zakat fitrah dan zakat maal, namun jika disebut shadaqah atau infaq maka yang dimaksud adalah shadaqah sunnah.

Zakat di Masa Awal Islam

Pada awal kelahiran Islam di Makkah, kewajiban zakat senantiasa disampaikan Allah Swt. dengan ungkapan “anfiqu fi sabilillah” (Berinfaqlah kamu di jalan Allah). Pada saat itu, belum ditentukan jenis-jenis harta kekayaan yang wajib diinfaqkan, demikian juga nisab dan presentase yang harus diserahkan untuk kepentingan fi sabilillah.

Tujuan infaq pada saat itu adalah untuk menutupi hajat orang-orang miskin dan dana penyebaran agama Islam. Pada saat perintah infaq diturunkan, kaum Muslimin pernah dua kali mengajukan pertanyaan tentang apa saja yang akan mereka infaqkan dan berapa nilai atau kadar yang harus diinfaqkan.Tetapi Allah Swt. tetap saja tidak menentukan apa saja dan berapa saja yang mereka infaqkan.

Demikianlah al-Qur’an memerintahkan kewajiban zakat dengan ungkapan kata nafaqa tanpa memberi batasan tentang jenis harta dan kadar yang dinafkahkan. Hal ini berlangsung sampai tahun pertama setelah nabi bersama ummatnya hijrah ke Madinah. Hal dapat dipahami, karena ummat Islam pada saat itu belum siap menerima kewajiban yang beraspek sosial yang dibatasi dengan ketentuan-ketentuan yang mengikat. Oleh karena itu, kepada mereka dibebani kebebasan apa saja dan berapa kadar yang mereka nafqahkan.

Pada tahun kedua hijriyah, baru Allah Swt. memerintahkan kewajiban zakat dengan menggunakan ungkapan “aatu al-Zakat” (tunaikanlah zakat). Seiring dengan perintah itu, Nabi Saw. memberikan penjelasan mengenai ketentuan-ketentuannya, seperti jenis kadar nisab, dan presentase harta yang dikenakan wajib zakat. ketentuan tersebut ditetapkan karena umat Islam pada saat itu sudah memiliki iman yang terkonsentrasi dan wilayah kehidupan yang sudah luas. Mereka telah membangun satu masyarakat yang memilki sistem kehidupan dan tujuan yang ingin dicapai, di samping kondisi yang telah memungkinkan menerima ketentuan dan batasan zakat.

 

Perbedaan antara Zakat dan Pajak.

Pengertian Zakat
Pengertian Zakat

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang -sehingga dapat dipaksakan- dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum. Sedangkan Pajak menurut Pasal 1 UU No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan umum dan tata cara perpajakan adalah “kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Bila dikaitkan dengan zakat, maka terdapat perbedaan pokok antara zakat dan pajak, yang menyebabkan keduanya tidak mungkin secara mutlak dianggap sama meskipun dalam beberapa hal terdapat beberapa persamaan diantara keduanya. Umumnya ulama’ mengatakan seorang Muslim tidak boleh menyatukan zakat dengan pajak dalam perhitungan persentasi yang harus dibayarkan. Artinya umat Islam wajib membayar zakat jika telah memenuhi syarat wajib zakat, dan pembayaran pajak yang ditentukan oleh penguasa juga menjadi kewajiban orang Islam.

Persamaan Zakat dan Pajak

Ketidakbolehan menyatukan antara zakat dan pajak dalam perhitungan persentase pembayaran, disebabkan antara keduanya terdapat banyak perbedaan meskipun dari segi-segi tertentu memiliki kesamaan. Jika dilihat secara cermat memang ada persamaan antara zakat dan pajak, di antaranya:

  1. Zakat dan pajak bersifat wajib dan mengikat atas harta penduduk suatu negeri, apabila melalaikannya terkena sanksi.
  2. Zakat dan pajak harus disetorkan pada lembaga resmi agar tercapai efisiensi penarikan keduanya dan alokasi penyalurannya. Dalam pemerintahan Islam, zakat dan pajak dikelola oleh negara.
  3. Tidak ada ketentuan memperoleh imbalan materi tertentu di dunia.
  4. Dari sisi tujuan ada kesamaan antara keduanya yaitu untuk menyelesaikan problem ekonomi dan mengentaskan kemiskinan yang terdapat di masyarakat.

Perbedaan Zakat dan Pajak

Namun dengan semua kesamaan di atas, bukan berarti pajak bisa begitu saja disamakan dengan zakat. Sebab antara keduanya, ternyata ada perbedaan-perbedan mendasar dan esensial. Sehingga menyamakan begitu saja antara keduanya, adalah tindakan yang fatal. Terdapat berbagai perbedaan antara zakat dan pajak, sebagaimana yang ditulis oleh Wahbah Zuhayli dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh sebagaimana dikutip oleh Daud Ali dan Amir Syarifuddin:

  1. Zakat adalah kewajiban yang ditetapkan berdasarkan al-Qur’an. Oleh karena itu kedudukannya adalah sebagai ibadah yang memerlukan niat dalam pelaksanaannya. Pajak adalah kewajiban yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang perpajakan yang ditetapkan oleh penguasa atau pemerintah. Oleh karena itu kedudukannya adalah sebagai kewajiban sosial yang tidak memerlukan niat.
  2. Zakat merupakan kewajiban terhadap agama yang apabila dilanggar mendapat hukuman keakhiratan (dosa): sedang pajak merupakan kewajiban terhadap negara yang apabila dilanggar mendapat hukuman keduniaan (penjara).
  3. Zakat diwajibkan kepada umat Islam yang kaya (zakat maal): sedang pajak diwajibkan kepada semua rakyat baik Muslim maupun non Muslim, baik kaya maupun miskin.
  4. Kadar kewajiban zakat ditetapkan berdasarkan al-Qur’an dan Hadits-hadits Nabi Saw.: sedang kadar kewajiban pajak ditetapkan oleh negara sesuai kebutuhan.
  5. Zakat hanya diserahkan kepada ashnaf yang delapan seperti yang ditetapkan Allah Swt. dalam al-Qur’an (QS. al-Taubah: 60); pajak diserahkan kembali kepada semua warga negara dalam bentuk pembangunan berbagai sarana untuk kemashlahatan bersama.
  6. Zakat tidak mungkin dihapuskan meskipun para mustahiqnya tidak ada lagi yang membutuhkan, sedang pajak mungkin saja dihapuskan tergantung pada pertimbangan pemerintah dan keadaan keuangan negara.

Tabel Perbedaan Zakat dan Pajak

Untuk mempermudah pemahaman kita, maka kami buatkan tabel yang mengungkapkan bagaimana perbedaan antara zakat dan pajak:

 Perbedaan Zakat Pajak
Arti Nama Bersih, bertambah dan berkembang. Utang, pajak, upeti.
Dasar Hukum al- Qur`an dan al- Sunnah Undang-undang suatu negara
Nishab dan Tarif Ditentukan Allah dan bersifat mutlak Ditentukan oleh negara dan yang bersifat relatif Nishab zakat memiliki ukuran tetap sedangkan pajak berubah-ubah sesuai dengan neraca anggaran negara.
Sifat Kewajiban bersifat tetap dan terus menerus Kewajiban sesuai dengan kebutuhan dan dapat dihapuskan
Subyek Muslim Semua warga negara
Obyek Alokasi Penerima Tetap 8 Golongan Untuk dana pembangunan dan anggaran rutin
Harta yang Dikenakan Harta produktif Semua Harta
Syarat Ijab Kabul Disyaratkan Tidak Disyaratkan
Imbalan Pahala dari Allah dan janji keberkahan harta Tersedianya barang dan jasa publik
Sanksi Dari Allah dan pemerintah Islam Dari Negara
Motivasi Pembayaran Keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ketaatan dan ketakutan pada negara dan sanksinya Ada pembayaran pajak dimungkinkan adanya manipulasi besarnya jumlah harta wajib pajak dan hal ini tidak terjadi pada zakat
Perhitungan Dipercayakan kepada Muzakki dan dapat juga dengan bantuan ‘amil zakat. Selalu menggunakan jasa akuntan pajak.

 

Kesimpulan   

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, di antaranya:

  1. Kata zakat berasal dari bahasa Arab “Zakka-yuzakki-tazkiyatan-zakaatan”, yang secara bahasa berarti al-Thoharoh, al-Namaa’, al-Barokah, al-Madh (pujian), dan Amal Sholeh. Sedangkan menurut istilah zakat adalah kewajiban atas harta atau kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dan dalam waktu tertentu pula.
  2. Zakat adalah kewajiban harta yang spesifik, memiliki syarat tertentu, alokasi tertentu dan waktu tertentu. Adapun infaq yaitu mengeluarkan harta yang mencakup zakat dan non zakat. Infaq ada yang wajib ada yang sunnah. Infaq wajib diantaranya kafarat, nadzar, zakat dll. Infaq sunnah diantaranya infaq kepada fakir miskin, sesama Muslim, infaq bencana alam dll.

– Adapun shadaqah maknanya lebih luas dari zakat dan infaq. Shadaqah dapat bermakna infaq, zakat dan kebaikan non materi.

– Selain memiliki persamaan, antara zakat dan pajak juga memiliki perbedaan yang dapat dilihat dari berbagai aspek, di antaranya aspek kewajiban, subyeknya, peruntukan, pemanfaatan, dan aspek tarif/kadar.

 

 

Tinggalkan komentar